Makna di Balik Kemegahan Arsitektur Candi Borobudur

Hari Minggu, 6 Mei 2012, seluruh umat Buddha di seluruh dunia akan memperingati hari raya Waisak. Nah, dalam rangka memperingati hari suci Waisak, sekaligus sebagai penghormatan bagi sribuddies yang memeluk agama Buddha, Sribu akan mengulik kekayaan sejarah dan arsitektur Candi Borobudur, yang merupakan salah satu candi Buddha terbesar dan termegah di dunia. Simak ya…

Hari suci bagi umat Buddha ini memiliki cukup banyak nama, diantaranya Visakah Puja atau Buddha Purnima, Saga Dawa, Vesak serta Visakha Bucha. Nama Waisak sendiri diambil dari bahasa Pali, “Wesakha”, atau bahasa Sanskerta “Waishakha”. Tanggalnya dapat berubah-ubah setiap tahun, karena Waisak tidak ditetapkan dengan menggunakan penanggalan Romawi, melainkan dirayakan setiap bulan Mei, pada waktu terang bulan (Purnama Sidhi).

Yang menjadikan Waisak berbeda dari hari suci lainnya adalah, Waisak memperingati tiga peristiwa penting sekaligus, yakni hari kelahiran Pangeran Sidharta, hari di mana Pangeran Sidharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha, serta hari di mana Buddha Gautama wafat (parinibbana). Itulah sebabnya, perayaan hari suci Waisak sering pula disebut sebagai “Trisuci Waisak”.

Menjelang hari suci Waisak, umat Buddha berbondong-bondong ziarah ke Candi Borobudur. Tentu saja, sebagai warga negara Indonesia, sribuddies pernah mendengar keagungan nama Candi Borobudur. Salah satu kebanggaan masyarakat Indonesia yang juga pernah dinobatkan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia ini berada di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya kurang lebih berada di 100 KM sebelah barat daya Kota Semarang, 86 KM sebelah barat Kota Surakarta dan 40 KM sebelah barat laut kota pelajar, Yogyakarta.

Usianya tidak bisa diprediksi dengan pasti, namun para ahli arkeologis memprediksi, candi ini dibangun antara tahun 760-825 M oleh penganut agama Buddha Mahayana, pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Kompleks candi megah yang menggabungkan pahatan dan arsitektur menakjubkan sekaligus simbolisme serta ajaran Buddha dan Hindu ini boleh saja dianggap sebagai monumen bernapaskan Buddha yang termegah di dunia saat ini. Namun, pada abad ke-14, candi ini sempat terbengkalai, seiring dengan semakin berkembangnya agama Islam di Indonesia, dan semakin berkurangnya penganut agama Buddha dan Hindu. Syukurlah, Sir Thomas Raffles, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jawa, menemukan kembali candi ini dan menggiatkan proses restorasi. Pemugaran besar-besaran mulai dilakukan oleh tim gabungan dari pemerintah Indonesia dan UNESCO antara tahun 1975-1982, hingga akhirnya Borobudur dinobatkan sebagai salah satu situs warisan dunia.

Kompleks candi ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar. Terdapat 504 arca (patung) Sang Buddha, dan 2.672 panel relief pada dindingnya.

Kemegahan Candi Borobudur telah mengundang decak kagum dari semua kalangan di seluruh dunia. Bahasan mengenai keagungan arsitekturnya pun tak pernah usai.

Candi ini dibangun di atas bukit, dengan mengikuti tata letak sebuah mandala raksasa, yang mewakili kosmologi Buddhis. Menurut ajaran agama Buddha, mandala merupakan lanskap alam semesta, dengan Buddha berada di pusatnya, dan menunjukkan langkah-langkah yang berbeda dalam proses pencarian kebenaran.

Kompleks Candi Borobudur terdiri dari sembilan platform, yang dibagi menjadi tiga bagian:
- Tiga barisan teratas adalah platform melingkar yang disebut Arupadhatu. Berbentuk oval yang sedikit melengkung.
- Enam platform di bawahnya berbentuk persegi, yang disebut Rupadhatu.
- Dan, struktur paling dasarnya, yang baru ditemukan pada tahun 1885, disebut Kamadhatu. Platform yang lebih rendah ini mungkin memiliki fungsi struktural untuk mencegah keruntuhan struktur. Lapisan ini baru ditambahkan setelah candi itu selesai; Hal itu dapat terlihat di salah satu sudut, di mana terdapat relief yang lebih tua diantaranya.

Mengunjungi Candi Borobudur, sribuddies akan menyadari betapa arsitekturnya dibuat sedemikian rupa, hingga membawa pengunjung untuk naik ke platform selanjutnya melalui tangga; Sebuah representasi yang jelas dari perjalanan menuju “pencerahan” spiritual. Relief yang berbeda di kedua sisinya membuat para peziarah terkadang harus mengitari kompleks candi ini hingga dua kali untuk melihat keseluruhan reliefnya.

Di antara platform Rupadhatu teratas dan platform Arupadhatu terbawah, terdapat gerbang melengkung yang diatasnya terdapat patung penjaga yang berwajah menyeramkan. Hal ini merepresentasikan transisi ke tempat yang lebih murni, yang tidak bisa dimasuki roh-roh jahat.

Bentuk candinya sendiri menyerupai stupa, atau makam/tempat penyimpanan abu bagi kalangan bangsawan ataupun tokoh-tokoh tertentu. Terdapat ratusan stupa berbentuk lonceng dan sebuah stupa utama.

Stupa-stupa yang berada di dua platform terbawah memiliki rongga berbentuk wajik, sementara stupa-stupa di lapisan atasnya memiliki rongga berbentuk segi empat. Perbedaan ini mungkin melambangkan kesempurnaan jalan menuju Penerangan Sempurna. Di dalam stupa-stupa tersebut, terdapat arca (patung) Sang Buddha yang tengah bertapa dengan posisi tubuh duduk bersila.

Sementara itu, stupa utama yang berukuran paling besar, teletak di tengah-tengah, sehingga disebut sebagai mahkota kompleks ini. Berbeda dengan stupa-stupa lainnya, stupa utama tidak memiliki rongga di sisi-sisinya. Konon, pada awalnya stupa utama berisi patung Sang Buddha yang terbuat dari emas, yang kemudian dicuri oleh penjelajah Belanda. Namun, hal tersebut tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Yang menarik adalah, stupa utama justru memiliki arsitektur yang sangat sederhana, dan jauh dari kemegahan arsitektur stupa-stupa lainnya di bawahnya. Diyakini, hal ini menggambarkan kesederhanaan Sang Buddha saat ia telah mencapai Penerangan Agung.

Wah, ternyata banyak sekali hal menarik yang bisa kita pelajari dengan mengamati arsitektur Candi Borobudur ya, sribuddies. Oleh sebab itu, jika sribuddies termasuk pengganderung arsitektur kuno, dan ingin lebih banyak mempelajari mengenai ajaran Buddha, segera saja kunjungi candi ini. Sebab, Borobudur tak hanya menjadi simbol Buddha dengan tata letak dan arsitekturnya, namun juga banyak menampilkan referensi kehidupan Buddha, baik dari relief dan patung. Selain itu, relief-reliefnya juga memiliki peran pendidikan lho. Sribuddies bisa melihat banyak adegan yang mewakili sejarah Buddha, berbagai inkarnasi dan jalan yang Beliau lalui hingga mencapai Nirwana.

Tak lupa, tim Sribu.com mengucapkan, selamat merayakan Trisuci Waisak bagi umat Buddha. Semoga semua mahluk berbahagia!

Salam,
Ryan Gondokusumo

Founder Sribu.com

email
  • agpras

    Mahakarya hebat yang penuh dengan detail… tidak bisa dibayangkan bila pada saat itu dunia arsitekturalnya telah dijangkiti oleh gaya arsitektur minimalis… hihihi…