Setiap bisnis yang berada dalam tahap perkembangan pasti menghadapi rintangannya masing-masing. Rintangan yang dihadapi tentu beragam, mulai dari membuat produk, mencari klien pertama, hingga mendapatkan publikasi dari media. Untuk mendapatkan klien, seringkali business owner menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian klien agar klien menggunakan produknya. Cara sales dan marketingnya pun semakin bervariasi; mulai dari online marketing seperti SEO (search engine optimization), SEM (search engine marketing), affiliate marketing, email marketing, atau offline marketing seperti canvassing, cold calling dan banyak lagi (cara lain untuk meningkatkan efektifitas kegiatan marketing)

Dengan banyaknya kegiatan marketing tersebut, persaingan antara perusahaan yang satu dan yang lainnya menjadi semakin panas. Setiap perusahaan berlomba-lomba untuk memenangkan hati masyarakat  dengan harapan dapat meningkatkan brand awareness dan revenue yang mereka dapatkan.

Namun, semua ketegangan dari persaingan bisnis seharusnya terlihat berbeda apabila terjadi di antara perusahaan start-up. Misi mulia perusahaan start-up adalah membuat produk yang menjadi menjadi solusi terhadap masalah yang ada di dunia. Untuk dapat mencapai gol tersebut, bukan persaingan yang seharusnya ditonjolkan di antara komunitas start-up, melainkan sikap untuk tumbuh bersama. Pada ekosistem start-up yang masih sangat dini ini, market adalah tantangannya. Untuk dapat penetrasi ke dalam market, setiap start-up harus bekerja sama.

Ketika mengembangkan Sribu dan Sribulancer, ada banyak start-up yang bekerja sama dengan kami misalnya seperti Groupon dan Berrybenka. Dengan bekerja sama, kami dapat mengedukasi pasar lebih besar lagi sehingga semakin banyak orang yang melek internet dan bertransaksi secara online. Namun sayangnya ada juga start-up yang tidak berpandangan demikian. Mereka tidak menjadikan market sebagai tantangan mereka, melainkan start-up lain yang dilihat sebagai kompetitornya yang harus dihancurkan dan…biasanya mereka menghalalkan segala cara.

 

Ethical VS Unethical Business Activities

hero
growing business ethically

 

Sebelum masuk lebih dalam mengenai kejadian-kejadian yang tidak etis yang pernah start-up kami hadapi, saya ingin share terlebih dahulu mengenai etika bisnis dan latar belakangnya…

Sebagai ujung tombak dari sebuah bisnis, tim sales dan marketing membawa nama baik brand di mata masyarakat; baik itu target market, massa, investor hingga kompetitor sekalipun. Bayangkan jika tim sales atau marketing Anda salah menyampaikan USP (unique selling proposition) dari produk yang Anda jual, menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dideliver atau lebih parahnya lagi berbohong mengenai produk yang dijual agar mendapatkan sales. Ini semua akan berdampak negatif kepada brand Anda. Oleh karena itu penting memiliki etika bisnis yang benar dan jelas. Maka dari itu USP ( Unique Selling proposition) sangat berarti, tidak hanya kepada market Anda tapi juga terhadap sesama pebisnis,.

Beberapa contoh etika bisnis umum, misalnya…

– Menyampaikan pesan yang benar kepada konsumen.

Professional marketer taat kepada standar tertinggi dari personal ethic.

– Privasi dari konsumen adalah hal yang tidak dapat dikompromikan.

– Saling respek dan menghargai sesama pebisnis dan kompetitor.

Etika bisnis ini penting karena mempengaruhi reputasi dan imej brand Anda di mata konsumen. Anda tidak ingin dicap konsumen atau sesama pebisnis sebagai brand yang terkenal akan keburukannya, itu harus sangat dihindari.

 

Apa yang Terjadi dengan Sribu?

Homepage Sribu

Sribu didirikan tahun 2011 sebagai pioneer bisnis crowdsourcing desain di Indonesia. Meskipun sebagai pioneer di Indonesia, kami tidak memilih untuk re-invent the wheel karena sudah ada beberapa start-up dengan business model sejenis yang sukses di luar Indonesia. Meski pada awalnya banyak orang yang tidak percaya pada sistem crowdsourcing yang Sribu terapkan, akhirnya pada pertengahan tahun 2013, Sribu berhasil melayani kebutuhan desain 1.000 klien, dengan produk andalan yaitu jasa desain logo dan jasa desain website. Kami pun on track untuk melayani hingga 10.000 klien. Tidak heran jika start-up baru dengan business model yang sama seperti Sribu akan bermunculan.

Terus terang, saya merasa excited apabila ada kompetitor di bisnis sejenis, karena artinya business model  dari start-up yang kami kembangkan sudah proven. Saya membayangkan persaingan sehat dimana kita bisa sama-sama mengedukasi market untuk memperkenalkan sistem crowdsourcing ini. Namun ironisnya, memang susah untuk membuat orang lain agar sepemikiran. Ada sebuah start-up, kita sebut saja start-up A yang melakukan tindakan yang di luar dugaan kami…

1. Gerakan Ambil Content Blog Tanpa Ijin

8 bulan setelah memulai Sribu, kami mulai membuat blog khusus yang akhirnya menjadi blog Sribu ini yang membicarakan mengenai bisnis dan desain. Hampir semua content yang kami buat di blog Sribu tersebut kami curate sendiri berdasarkan permintaan dari subscriber dan user kami, hingga kini, kami memiliki lebih dari 500 artikel yang kami buat di blog kami.

Ketika mendengar mengenai start-up A dari teman saya, saya coba cek website dan Facebook fan pagenya…dan cukup kaget dengan apa yang saya dapati. Start-up A meng-copy paste kalimat-kalimat dari artikel yang kami miliki kata demi kata dan dipost di Facebook fan pagenya tanpa merubah atau meng-curate ulang. Dan…tanpa memberikan link source artikel tersebut. Berikut beberapa contoh artikel yang diambil langsung dari blog kami:

QA 10 4
Artikel dari blog Sribu yang direpost ulang di facebook page Start-up A

 

 

More copy paste….termasuk imagenya juga.

 

Speechless…padahal, banyak sekali artikel di internet yang membahas perihal desain dan juga bisnis. Artikel-artikel tersebut dapat dipakai sebagai referensi dan dari situ dibuat menjadi artikel baru hanya dengan modal waktu, dan kemauan. It sucks, kami hanya dapat melihat content kami dipakai orang lain tanpa izin. (Kami ada email ke kontak yang bersangkutan mengenai hal ini namun tidak ada reply atau jawaban atas email kami).

 

2. Hot Linking website kami

Halaman How It Works yang dimiliki entitas A
Halaman Cara Kerja yang dimiliki Start-up A. Contentnya sama dengan Sribu

 

Start-up A tidak hanya mengambil content dari blog kami, namun juga content dari website kami….ok it’s fine….ketika saya masuk ke halaman How It Works-nya dan melihat image yang sama seperti di halaman cara kerja kami. Saya klik image-nya dan link yang muncul adalah link seperti: http://sribu.com/xxx.jpg. Artinya mereka melakukan hot linking image dari website kami langsung. Jadi apabila saya ubah image di halaman cara kerja kami maka di halaman cara kerja start-up A juga berubah….WOW.

Akhirnya yang kami lakukan adalah mengubah image tersebut menjadi logo Sribu, dan voila di halaman cara kerja start-up A juga berubah menjadi halaman dengan logo Sribu selama 2 hari.

Detail halaman cara kerja milik entitas A yang sama persis dengan halaman cara kerja Sribu.com
Halaman cara kerja start-up A. Hot linking dari halaman cara kerja kami.

 

Saya langsung lost respect terhadap start-up A, terutama founder-nya yang melakukan hal seperti ini karena ini mencoreng nama baik start-up yang dibangunnya dan semua orang yang berada di dalamnya, begitu pula dengan karir di dunia professionalnya. Mungkin memang mental seperti inilah yang membuat start-up di Indonesia kalah daripada start-up negara lain.

 

Bagaimana dengan Sribulancer?

Homepage Sribulancer
Homepage Sribulancer

 

Sebelum kami develop Sribulancer 8 bulan lalu, kami menyadari bahwa kami sudah memiliki banyak kompetitor baik di luar maupun di dalam negeri. Namun, saya tetap yakin bahwa business model seperti Sribulancer ini memiliki potensi yang sangat besar di market Indonesia. 3 tahun menjalani Sribu menjadi modal dan pengalaman yang cukup untuk membuat Sribulancer dengan lebih efektif dan efisien.

Setelah product launching, kami banyak fokus di traction dan juga mulai makin banyak diliput oleh banyak media seperti di sini, sini dan sini sebagai solusi untuk mencari pekerja freelance dengan cepat dan tepat. Beberapa kompetitor kami juga mulai melirik dan salah satunya adalah, kita namakan start-up B. Sekali lagi, hal yang tidak diinginkan terjadi oleh pihak yang berbeda….oleh start-up B

Unethical Direct Selling

Bayangkan jika Anda adalah pemilik toko yang sedang kedatangan pelanggan. Ketika pelanggan tersebut sedang menggunakan produk yang Anda miliki, tiba-tiba Anda kedatangan seorang yang tidak Anda kenal dan orang tersebut malah menawarkan barang dagangannya. Apakah Anda merasa kesal?

Inilah yang terjadi…

Unwanted Guest in Sribulancer
Unwanted Guest in Sribulancer

 

Pelaku meninggalkan jejak
Pelaku meninggalkan jejak

 

Start-up B melakukan kegiatan selling yang sangat tidak etis; menyamar sebagai pekerja freelance di Sribulancer, dan berusaha untuk membujuk klien Sribulancer agar beralih menggunakan produknya melalui platform Sribulancer. Namun, start-up B ternyata tidak berhenti sampai di situ dan kembali melakukan kegiatan unethical direct selling melalui email dan juga SMS kepada klien Sribulancer.

Ini contoh email dari klien kami yang mendapatkan email dari start-up B:

Email teror dari Startup B ke klien kami yang baru post job di Sribulancer
Email teror dari Start-up B ke klien kami yang baru post job di Sribulancer

 

Ada lagi yang versi SMS. Klien kami Kevin yang baru posting job dan langsung diteror via SMS oleh start-up B. Spam memang perlu dibersihkan…

Startup B menggangu klien kami via SMS
Start-up B menggangu klien kami via SMS

 

Saya yakin apabila start-up Anda di-treat  dengan cara yang sama oleh kompetitor, pastinya Anda tidak senang. Kami juga berharap agar start-up B juga menyadari perbuatan yang sangat tidak profesional ini dan kembali ke jalur yang benar. Kembali lagi, tantangan kita adalah market, bukan sesama start-up, itulah yang saya sesali dengan mindset start-up A dan B.

 

“Dear unethical founders and marketers, how low can you go?”

 

 

More Unethical Marketing di dunia start-up Indonesia…

Banyak sekali persaingan tidak sehat yang terjadi di dunia start-up. Mungkin Anda pernah mendengar berita mengenai Zalora yang membeli keyword Google search kompetitor, yakni Below Cepek. Pada saat itu, Zalora membuat sub-domain bernama ‘below cepek’ dan juga membeli keyword ‘below cepek’ untuk dipasang di Google Ads.

 

Screenshot ini diambil dari salah satu artikel di DailySocial
Screenshot ini diambil dari salah satu artikel di DailySocial

 

Bukan hanya itu, Anda masih bisa melihat contoh marketing yang tidak etis yang terjadi pada Moka POS di google. Ketika kita mengetik keyword ‘MokaPOS’ yang muncul malah ads kompetitor.

Keyword Mokapos di google, tapi yang muncul...
Keyword Mokapos di google, tapi yang muncul…

 

Memang tidak ada aturan baku dan jelas yang mengatur mengenai boleh atau tidaknya melakukan kegiatan marketing seperti contoh di atas, begitu pula dengan batasan antara etis atau tidak etisnya sebuah tindakan marketing yang dilakukan oleh brand tertentu. Namun, saya yakin kita semua di sini sepakat kalau kasus-kasus di atas merupakan contoh dari persaingan bisnis yang tidak sehat, bisnis yang sukses harus memiliki pemahaman tentang etika bisnis dengan benar.

Namun, apakah marketer di Indonesia memang berada pada level seperti ini? Apakah mereka hanya bisa menggunakan cara tidak etis seperti contoh di atas terus menerus? Padahal banyak sekali cara marketing yang lebih sehat dan positif.

 

Akhir Kata

Mengembangkan perusahaan start-up juga bukan hanya masalah bagaimana cara mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi bagaimana caranya agar start-up tersebut bisa menawarkan solusi terbaik dan membantu masyarakat. Terlebih lagi jika kita mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat besar, tentu perusahaan start-up yang dikembangkan pun juga memiliki market share yang besar pula. Jadi, mengapa kita harus saling merebut klien satu sama lain?

Sebagai start-up founder, sekali lagi saya berpendapat bahwa market merupakan hal yang harus ditaklukkan. Tentu akan lebih baik jika start-up sama-sama crack the market dengan cara yang etis dan lebih professional agar ekosistem ini terbentuk dengan lebih sehat.

Sebagai business owner, pernahkah Anda mengalami kejadian serupa? Silahkan share pengalaman Anda.


Ryan Gondokusumo

Ryan Gondokusumo

Ryan adalah founder dari Sribulancer, platform untuk mencari freelancer berkualitas dengan cepat dan tepat dan founder Sribu, platform jasa desain grafis online yang telah membantu lebih dari 2.000+ pelanggan. Spesialis UI dan UX design, team building, pengembangan produk, strategic marketing, digital marketing. Anda dapat ngobrol dengan Ryan di twitter via @redjohn_G

  • Yusuf Ramdhan

    thx bro Ryan, jadi referensi juga yah, keren deh buat sribu.

    • @yusuframdhan:disqus: Terima kasih atas komplimennya :) dan senang bahwa artikelnya berguna!

  • Toha Nasrudin

    artikelnya bagus

  • Daniel Witono

    Untuk kasus mokapos, saya mersa itu bukan black campaign, soalnya pawoon hanya advertise menggunakan keyword mokapos buat menunjukkan adanya product serupa tapi berbeda merek,

    Sedangkan buat yang lain2 saya stuju kalau itu tidak etics

    • @danielwitono:disqus: Terima kasih atas inputnya pak :). Meskipun tidak dilabel sebagai black campaign, saya rasa kita akan merasa

  • Bye Webster

    Baru tau zalora begitu ;( padahal perusahan gede.. #Ketakutan diambil rezekinya kalih.. :D~

    • @byewebster:disqus: Zalora dipush untuk grow salesnya dari bulan ke bulan dalam jumlah multiplier yang besar.

  • @siva_raja:disqus: Terima kasih atas komplimennya pak :). Saya setuju juga dengan pendapat bapak. Konsumen juga merasa bahwa itu adalah spam dan sesuatu yang tidak mereka harapkan.

  • @hari murtiadi: Terima kasih atas dukungannya dan amin untuk doa dan harapannya pak!

  • Ikhsan Rahardian

    Well written, Ryan!

  • Tonni

    semakin besar suatu bisnis, semakin besar dan aneh-aneh tantangannya. Tapi spirit pengusaha asli tidak pantang menyerah bukan? Kalo pengusaha KW-KW an seperti contoh kompetitor mas Ryan di atas maah santai aja bro, paling bentar lagi lenyap! hhahah

    • @m0nx:disqus: Terima kasih atas dukungannya mas Tonni, kami yakin produk dan service yang terbaik adalah elemen penting bagi sebuah bisnis profesional untuk dapat tumbuh besar, bukan cara-cara yang non-etis :).

  • kompetitor atau klien yang nakal emang banyak, tp seenggaknya kita balas pake peningkatan kualitas. sukses buat sribu

    • @disqus_SRTRyh47HH:disqus: Setuju dan itu yang kami lakukan sekarang :). Terima kasih atas supportnya terus mas Bayu!

  • aRFaNs

    Tulisannya keren bgt bro, bisa jadi referensi dan inspirasi nulis artikel sperti ini untuk mnyindir kompetitor nakal krna sya jg punya kasus yg mirip bgt spert ini.

  • Adfy 168

    saya mau sewa orang seo ada ?