Sebagai seorang penulis yang sesekali nyambi menjadi editor, saya termasuk orang yang sangat peduli terhadap kesempurnaan tulisan. Setiap membaca tulisan, mau panjang atau pendek, saya bisa dengan cepat menemukan kesalahan ketik (typing error).

Lucunya, dalam beberapa tulisan sendiri (yang sudah ter-publish), saya pernah “kepleset” melewatkan beberapa typing error. Padahal saya sudah melakukan proofreading lebih dari 2 kali dan merasa yakin tulisan tersebut sempurna. Sekian menit setelah saya publish tulisan tersebut, ada komentar dari pembaca. Baru mau senang karena hal tersebut, ternyata komentar pembaca itu berisi koreksi typing error yang terdapat pada paragraf tengah tulisan saya. Pembaca tersebut bahkan tidak peduli dengan isi tulisannya.

Good editor

 

Saya cukup yakin bahwa banyak dari teman-teman juga sering mengalami hal ini. Sebagai penulis, kita kerap lebih fokus pada konten dan melupakan teknis. Kita lebih mengutamakan tulisan memiliki ide yang bagus, pesan tersampaikan dengan baik, serta susunan bahasa dan pemilihan katanya tepat. Kita akhirnya mengesampingkan teknis EYD yang adalah hal paling mendasar dari sebuah tulisan. Kita pun akhirnya juga tidak terlalu “ngeh” pada kata yang salah ketik.

Padahal, kesempurnaan teknis tulisan juga menjadi salah satu tolok ukur utama penilaian pembaca. Apalagi jika tulisan dimaksudkan untuk tujuan formal, bisnis, dan atau keperluan konten marketing. Teknis tulisan yang ternoda oleh typing error menyebabkan hal fatal. Kita tak hanya jadi bahan tertawaan, tetapi juga mendapat stigma buruk. Mulai dari dipandang tak mampu membayar seorang penulis/proofreader/editor yang berkualitas, kredibilitas diragukan, sampai mendapat kerugian finansial yang besar.

 

Salah satu typo tertua dan termahal di dunia
Salah satu typing error tertua dan termahal di dunia

 

Kesalahan fatal jadi bahan tertawaan
Kesalahan fatal jadi bahan tertawaan

Nah, hal tersebut jelas harus kita hindari dalam bentuk apapun, terutama dalam bisnis professional. Apalagi jika Anda mencari penghidupan dari pekerjaan sebagai penulis seperti saya. Typing error bisa membawa Anda ke ujung jurang yang dasarnya batu-batu lancip. Sudah jatuh, nancap, sakit, berdarah, tidak bisa lepas pula!

 

Kenapa Typing error Bisa Lolos dari Mata Kita?

Typo error harga - harusnya 497
Typing error harga – harusnya 497

Yang menjadi pertanyaan utama bagi kita adalah, mengapa kita masih bisa saja tidak sadar ada typing error dalam tulisan sendiri yang sudah berkali-kali kita periksa? Mengapa bisa-bisanya kesalahan memalukan tersebut lolos dari pantauan padahal biasanya kita begitu teliti dan ketat pada tulisan orang lain?

Hal pertama yang perlu kita sadari, kejadian tersebut sangat umum terjadi dan sama sekali bukan mengartikan kita tidak becus menjadi penulis. Sebuah penelitian dari University of Sheffield di Inggris yang dilakukan oleh psikolog Tom Stafford malah menyatakan bahwa typing error terjadi karena pada saat menulis, kita berusaha menuangkan makna melalui sebuah proses berpikir berlevel tinggi dan cerdas.

Menariknya, pada tahap tersebut, kita berfokus pada hal yang lebih kompleks. Seperti mengonversi makna menjadi kata yang mudah dimengerti dan mengombinasikan antarkata agar menjadi kalimat yang bermakna sesuai maksud kita. Hal ini menyita energi otak, sehingga ketika membaca ulang tulisan kita, otak cenderung menyederhanakan bagian lebih kecil (susunan huruf menjadi kata, dan susunan kata menjadi kalimat).

Selain itu, saat membaca ulang tulisan sendiri, otak kita sudah tahu makna yang ingin kita sampaikan serta tujuan dari tulisan itu sendiri. Jadinya kita berfokus pada hal tersebut, dan otak secara otomatis melewatkan bagian kata per kata (ingat bahwa makna muncul dari kumpulan dan urutan kata).

Sementara itu, saat kita membaca tulisan orang lain, posisi otak sedang dalam keadaan segar dan sama sekali baru (tidak familiar dengan tulisan tersebut). It makes us paying more attention to the detail of the writes! Jadilah kita langsung sadar ketika ada kesalahan ketik muncul dalam tulisan orang lain.

Lagipula, saat membaca tulisan sendiri, secara tidak sadar, otak kita berharap bahwa tulisan ini baik dan sempurna (error-free post). Lain halnya ketika kita mengecek tulisan orang lain. Sebelum mulai membaca pun kita sudah berharap akan menemukan kesalahan. Iya kan? Hal itulah yang juga menjadikan otak kita terset “auto correct” saat mengecek tulisan sendiri, dan malah menjadi “spell checker” saat mengecek tulisan orang lain.

Sekarang kita sudah tahu kenapa typing error sering lolos dari mata sendiri. Lantas, bagaimana cara mempertajam mata dan otak kita agar typing error ini bisa selalu terjaring dan tertangkap meski sekecil apapun?

 

Turn Your Eyes and Brain Automatically “Strict” to Typing error!

Spell and grammar checker in Word

Umumnya, orang mengerjakan tulisan panjang menggunakan aplikasi Microsoft Word. Aplikasi ini memiliki fitur spell dan grammar checker yang berguna untuk proofreading. Namun, fitur tersebut jauh lebih efektif diandalkan pada tulisan berbahasa Inggris. Dan perlu diingat, fungsi pengecekan ini ternyata tetap tidak bisa menggantikan peran manusia.

Hal utama yang harus kita pastikan dalam berburu typing error dalam tulisan sendiri adalah jangan pernah melakukan proofreading sebelum kita benar-benar menyelesaikan proses penulisan dan editing. Karena proses pengecekan ini membutuhkan ketelitian yang tinggi, maka pastikan kita melakukannya saat berada di waktu khusus tanpa distraksi dan interupsi dari apapun. Lalu, ada pula yang bilang keyboard berpengaruh terhadap penulisan. Jadi, pastikan perangkat kerja kita memiliki keyboard yang nyaman untuk pergerakan jari saat mengetik.

Berdasarkan pembelajaran dari berbagai sumber kredibel, serta pengalaman saya sendiri berkutat dengan tulisan selama lebih dari 5 tahun, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan saat berburu typing error. Cara ini umumnya digunakan pada tulisan panjang, seperti blog post, email marketing (newsletter), proposal, laporan kerja, dan company profile. Untuk versi pendek seperti copywriting iklan cetak, beberapa tahap di bawah ini tetap bisa dilakukan.

Tahap ini memang cukup memakan waktu, namun sangat efektif. Kita bisa melakukannya sendiri, atau bisa juga mengandalkan jasa proofreader dan editor di perusahaan kita. Jika tidak punya proofreader dan editor sendiri, just hire the freelancer!

1. Beri jeda sebelum proofreading

Biasakan menyegarkan pikiran dan mata kita dulu sebelum proofreading. Luangkan 1-2 hari jeda jika waktu deadline masih cukup panjang. Jika memang deadline ketat, tinggalkan dulu tulisan seminimalnya 1 jam baru mulai mengeceknya. Hal ini membuat otak dan mata kita punya perspektif, emosional, maupun kesan yang lebih segar terhadap tulisan tersebut. Jadi, kita bisa lebih fokus melihat tulisan yang “faktual”, bukan yang sekadar kita harapkan.

 

2. Kenali kelemahan utama sendiri

Sebelum proofreading, pastikan kita sudah membekali diri dengan pengenalan terhadap kelemahan kita dalam menulis dulu. Jadi kita bisa lebih fokus pada kata-kata tersebut. Saya, misalnya, punya kelemahan mengetik “dan” menjadi “dna”, “untuk” menjadi “utnuk” serta “saja” menjadi “sajana”. Kita bisa menggunakan fitur “find and replace” di Ms. Word untuk menemukan kata-kata kelemahan kita tersebut dan langsung mengeditnya saat proofreading. Hal ini juga berlaku untuk pengetikan EYD. Cari tahu juga penyebab seringnya kita melakukan kesalahan tersebut agar lebih mudah mencari cara memperbaikinya.

 

3. Print out!

 

printed out

 

Setelah melakukan proofreading pertama, lanjutkan dengan melakukan pengecekan tahap ke 2. Print out tulisan ke dalam dua versi; 1 versi asli dan 1 versi dengan jenis, ukuran, dan warna font serta spasi dan margin yang berbeda. Tampilan berbeda membuat otak dan mata kita mengartikan tulisan sebagai hal baru sehingga jauh lebih fokus ketika dibaca. Kita juga bisa menyetaknya dalam format kolom seperti buku atau koran untuk tampilan lebih berbeda. Membaca versi printed out membuat kita lebih fokus karena bisa kita tandai. Pun bisa kita bawa keluar, ke tempat lain yang lebih santai yang segar, sehingga kita bisa lebih detail lagi saat proofreading.

 

4. Baca sambil keluar suara!

Baca bersuara

Baca hasil tulisan dan editan sambil mengeluarkan suara membuat kita jauh lebih fokus pada detail kata per kata. Idealnya, membaca dengan volume dan tempo sedang. Jangan buru-buru karena nantinya bisa jadi sama saja dengan membaca cepat (skimming) dan typing error tetap terlewat. Membaca sambil keluar suara ini juga memudahkan kita menemukan flow tulisan, apakah enak dibaca atau tidak.

 

5. Fokus!

Beberapa simbol dalam proofreading
Beberapa simbol dalam proofreading

Saat berburu typing error, kita harus fokus tak hanya pada kata tetapi juga sampai ke EYD. Ada 3 cara yang perlu kita lakukan jika ingin melatih fokus, yaitu:

  • paksa diri untuk membaca setiap kata. Jika tidak ingin membaca bersuara (misalnya karena kita sedang berada di kantor dengan ruangan bersama), kita bisa melakukan pembacaan terfokus ini. Cara mudahnya adalah dengan membaca sembari menggunakan ujung pensil/pulpen sebagai penanda trek bacaan dan memastikan tidak ada kata terlewat. Kita juga bisa memakai penggaris yang diletakan di bawah baris tulisan yang sedang dibaca untuk memastikan tidak ada baris kalimat terlewat/terloncat.
  • buat sistem pengecekan terpisah. Cara ini membuat kita membaca berulang kali. Pembacaan 1, khusus untuk mengecek kata. Pembacaan 2 khusus untuk mengecek tanda baca. Pembacaan 3, khusus untuk mengecek EYD lain-lain. Pembacaan 4, khusus mengecek data dari pihak ketiga (jika ada), seperti tabel, kutipan, nilai, grafik, dan lainnya. Pembacaan 5, khusus mengecek format tulisan. Begitu seterusnya, sesuaikan dengan nyamannya masing-masing. Cara bertahap ini menjadikan fokus kita lebih jelas dan terarah sehingga ketelitian semakin terjaga.
  • baca terbalik, mulai dari akhir ke awal. Banyak yang mengatakan bahwa cara ini cukup efektif untuk membuat otak kita merasa ganjil sehingga lebih detail dalam mencari typing error (lebih fokus pada huruf dan kata).

 

6. Ask others to read!

Minta orang lain untuk membacaSetelah menyelesaikan proofreading mandiri, sempurnakanlah dengan meminta mata lain untuk mengeceknya. Mereka bisa menemukan kesalahan yang terlewat oleh kita. Tidak ada personal checker yang lebih baik dan teliti dibanding orang baru yang belum pernah membaca tulisan tersebut sama sekali. Kita bisa meminta bantuan teman, keluarga, atau secara profesional kepada proofreader dan editor.

 

Kesimpulan

Kesempurnaan tulisan tak hanya datang dari konten, tetapi juga teknis seperti ketepatan penulisan dan EYD. Mari biasakan diri menjadikan typing error sebagai musuh dan latih diri kita untuk peka dan teliti terhadapnya dalam tulisan sendiri. Tulisan yang bebas dari typing error adalah tulisan yang professional dan bisa menaikan kredibilitas kita. Enam tahap di atas bisa kita lakukan untuk membuat tulisan bersih dari typing error. Apakah Anda punya cara efektif lainnya? Yuk berbagi dalam kolom komentar!


Ambargamala

Ambargamala

Pengacak kata-kata.. usia masih muda.... cukup bisa menulis karena terbiasa. Sehari-hari mengisi waktu dengan membaca atau menulis apa saja selama mengandung kata. Orang yang bengong sedikit pasti lapar dan lapar sedikit pasti gampang ngamuk.