Business opportunities are like buses, there’s always another one coming.” – Richard Branson

 

Siapa di antara Anda yang tidak mengenal Richard Branson? Sekedar perkenalan singkat, Richard Branson adalah pemilik dari Virgin Groups yang memiliki sekitar 400 anak perusahaan yang salah satunya adalah maskapai penerbangan ternama yang bernama Virgin Atlantic Airways.

Bagi kebanyakan entrepreneur, Richard Branson pasti menjadi salah satu sosok pengusaha yang diidamkan karena banyaknya usaha yang dimiliki dan berbagai kesuksesan yang diraihnya. Namun, saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus menjadi kapten dari 400 perusahaan.

Kembali flashback pada saat di mana saya mulai membangun Sribu bersama Wenes, semuanya nampak begitu melelahkan. Saya harus berusaha mencari publikasi, meningkatkan sales dan juga mencari investor secara bersamaan. Hal ini tidaklah mudah, ditambah juga 3 Masa Krisis yang Hampir Menghancurkan Sribu  yang telah saya ceritakan pada artikel sebelumnya.

Pivoting_dari Sribu- Sribulancer

Setelah melewati 3 masa krisis Sribu sebelumnya, saya menyadari bahwa Sribu telah mencapai titik maksimumnya dikarenakan masalah di market yang terbilang kecil. Misalnya perusahaan yang membutuhkan logo desain, hanya akan mengganti logonya 10-20 tahun sekali. Sehingga kami harus senantiasa mencari klien baru. Namun untuk mencari klien baru, tingkat kesulitannya mencapai 6 kali lipat daripada membuat klien yang sama untuk menggunakan produk kami lagi. Yang dapat kami lakukan saat itu adalah terus mempertahankan kinerja baik dan memikirkan ide untuk produk kedua.

Sribu and The Problems

Ketika membangun sebuah produk, sangat susah untuk mengakui bahwa produk yang kita buat setelah 3 tahun susah berkembang ke level selanjutnya meskipun Sribu telah melayani lebih dari 2.000 klien. Pernahkah kalian melakukan segalanya untuk dapat meningkatkan sales, dari segi marketing, sales, customer service hingga pengembangan produk namun tetap saja growth daripada produk kalian tidak meroket? Itulah yang kami alami di Sribu.

Pada artikel sebelumnya, saya sempat menceritakan salah satu masa di mana saya hampir burnout menjalankan Sribu. Sales Sribu tidak kunjung mengalami kenaikan yang signifikan. Tiga bulan sales naik, 1 bulan berikutnya sales kembali anjlok, jadi seperti lingkaran setan dan merasa dipermainkan oleh produk sendiri.

Saya menceritakan mengenai hal ini dengan teman dekat saya, Ryu dari Veritrans dan Pina dari Infoteria (sebelum kami diinvest oleh Infoteria), keduanya adalah entrepreneur luar biasa yang terutama Pina yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia bisnis dan single-handedly mengembangkan Infoteria menjadi public company di Jepang. Keduanya menceritakan bahwa Sribu hit scaling problem.

scale-your-business
Scaling Problem

 

Scaling problem adalah masalah mengenai market size. Jika Anda memiliki sebuah start-up company yang menawarkan produk spesifik untuk market tertentu, maka Anda akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena scaling problem.

Jadi akan lebih baik jika Anda menawarkan produk yang dapat digunakan oleh semua orang daripada menawarkan produk yang hanya dapat digunakan khusus untuk orang dengan gender dan kelompok umur tertentu. Dengan menawarkan produk yang dapat digunakan banyak orang, maka Anda dapat terus mengembangkan semua aspek bisnis sehingga Anda dapat memberikan solusi bagi banyak orang.

Sribu kena scaling problem karena:

  1. Populasi pengguna internet di Indonesia hanya 75 juta penduduk, padahal jumlah penduduk di Indonesia adalah 240 juta. (31%). Penduduk yang membayar online via credit card kurang dari 1%.

  2. Sribu adalah pioneer sistem crowdsourcing dan tidak banyak orang di Indonesia yang mengerti sistem crowdsoucing. Artinya kami harus mengedukasi pasar, dan itu adalah hal yang sangat sulit.

  3. Produk yang kami jual memiliki LTV (Lifetime Value) yang bagus, 3-4 tahun dengan average product price sekitar Rp 3.000.000, namun repeat order-nya tidak sering, sekitar 4-6 bulan sekali (Anda bisa mencoba mengkalkulasi average product price untuk mengetahui Lifetime Value product Anda )

 

Ada 3 cara untuk menghadapi scaling problem ini:

  1. Menunggu market siap untuk mengkonsumsi produk sambil melakukan edukasi tentang produk/jasa yang dimiliki.

  2. Expansi ke luar negeri atau kita namakan international expansion. Misal memasarkan Sribu di negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, Hongkong dan lainnya.

  3. Menambah Stock Keeping Unit (SKU) dengan menambah produk yang memiliki target market yang lebih luas. Ini yang biasanya kita namakan, going into the vertical.

Di antara kedua hal tersebut, manakah yang menurut Anda lebih mudah untuk dilakukan?

 

The Beginning of Sribulancer

Saya banyak berdiskusi dengan Pina dan beliau menceritakan kepada saya beberapa contoh online start-up berbasis crowdsourcing yang sukses di Jepang. Dua online start up Jepang yang sukses adalah Lancers, dan Crowd Works. Kedua online start up fokus untuk membantu bisnis mencari pekerja freelance berkualitas dengan cepat dan tepat. Anda dapat membaca kesuksesannya di sini dan di sini.

lancers-logo
Lancers

 

 

crowdworks-logo-720x376
Crowdworks

 

Saya langsung mencari tahu lebih lanjut mengenai kedua startup tersebut. Ternyata produk seperti Lancer dan Crowdworks belum ada di Indonesia namun sejalan dengan konsep crowdsourcing yang sebelumnya kami buat di Sribu. Mengingat Indonesia berada dalam tahap berkembang yang pastinya memiliki banyak UKM yang membutuhkan bantuan para pekerja freelance, pasarnya tentu sangat besar sekali! Saya menjadi optimis dan saat itulah ide untuk mewujudkan Sribulancer muncul.

Namun, agar tidak hanyut dalam euphoria, saya mencoba kembali mengingat bagaimana Eric Ries menjelaskan mengenai teori start-up yang pernah saya bagikan di sini. Jadi yang pertama harus lakukan adalah men-develop Sribulancer dalam bentuk MVP (Minimum Viable Product).

Minimum Viable Product adalah versi paling simple dari sebuah produk yang sudah mampu untuk menjalankan 3 tahapan dari metode Lean Start Up (Build-Mesure-Learn). Tujuan membuat MVP untuk membuktikan bahwa bisnis model produk yang digunakan kita dapat berjalan atau tidak dan untuk re-check dengan kebutuhan market: Apakah produk tersebut banyak peminatnya? Apakah cara kerjanya membingungkan? Dan langkah apa yang bisa dilakukan selanjutnya?

Sebelum kami develop MVP, awalnya kami tentukan dahulu direction atau goal daripada Sribulancer. Kami ingin Sribulancer dapat menjadi platform yang membantu bisnis untuk mencari pekerja freelance yang tepat dari seluruh dunia. Layanan pekerja freelance kami mulai dari pemrograman, desain web, desain grafis, voice over, pembuatan video, penulisan artikel, penulisan email dan banyak lagi. Sistem Sribulancer memanfaatkan data kinerja yang membuat proses seleksi pekerja freelance mudah dan dapat diandalkan – setiap kali ada menggunakannya. Itulah visi yang kami inginkan terjadi melalui Sribulancer.

Kami develop MVP ini selama 2 bulan dari bulan Mei – Juli 2014. Total MVP kami adalah 8 halaman dengan fokus utama adalah membantu klien mendapatkan pekerja freelance berkualitas secepat mungkin. Jadi hanya halaman dan fitur yang penting yang kami siapkan. Beta Sribulancer kami luncurkan di awal Agustus 2014 dan selama 4 bulan kami coba untuk testing market dan dapatkan response dan feedback dari klien dan pekerja freelance kami. Kami mulai mendapatkan klien UKM dan juga perusahaan corporate di Sribulancer. Contohnya seperti Cynthia Tenggara, founder dari Berry Kitchen yang mencari freelancer untuk redesain websitenya atau Haryanto Tanjo, founder dari Moka yang menggunakan jasa Sribulancer untuk mencari pekerja freelance untuk keperluan market riset. Kami rangkum semua cerita-cerita klien kami menggunakan Sribulancer. Dari traction yang kami dapatkan di awal perjalanan Sribulancer, jiwa entrepreneurial mengatakan bahwa Sribulancer adalah produk yang kami cari!

Testimoni Klien Sribulancer
Testimoni Klien Sribulancer

 

Preparation of Sribulancer

Tanpa bermaksud untuk meninggalkan Sribu, saya dan Wenes sadar bahwa Sribu adalah produk pertama kami yang dikembangkan dengan sangat susah payah dan penuh perjuangan. Namun, kami tidak mau terlalu idealis karena kami harus tetap realistis. Di saat yang bersamaan, kami memiliki jumlah tim yang cukup banyak untuk digaji setiap bulan, kami juga membutuhkan biaya untuk operasional dan perkembangan sales yang bagus untuk mendapatkan pendanaan tahap selanjutnya. Jadi kami merasa bahwa harus ada suatu perubahan sebelum akhirnya membuat keputusan untuk develop Sribulancer. Namun untuk membangun Sribulancer tidak dapat dilakukan cepat karena ini adalah produk yang besar.

Beruntungnya, saya mempunyai Co-founder yang sangat supportive  seperti Wenes (supportive merupakan salah satu kunci kerja sama dalam membangun sebuah bisnis). Wenes setuju dan mendukung dengan penuh ide untuk mengembangkan Sribulancer. Bukan hanya setuju, Wenes juga sangat welcome dengan proyek baru ini karena banyak hal yang bisa dilakukan dengan membuat Sribulancer dari 0 setelah belajar banyak dari mengembangkan Sribu. Ketika membuat keputusan untuk mengembangkan Sribulancer, kami langsung mengalihkan fokus tim development kami dari Sribu ke Sribulancer secara penuh agar pengembangan Sribulancer lebih cepat.

Managing The Team

Kami juga sadar bahwa tidak mungkin tim development difokuskan ke 2 produk kecuali kami ada 2 tim development yang berbeda. Kami harus pilih salah satu dan Sribulancerlah pilihannya.

Dikarenakan pengembangan dan penambahan fitur baru di Sribu sudah hampir selesai dan kami telah mencapai product market fit, maka kami hanya fokuskan ke marketing dan operational untuk Sribu. Kami improve strategi pemasaran dan juga customer service kami agar dapat membantu lebih banyak lagi klien yang membutuhkan desain melalui Sribu.

Sribu dan Sribulancer memang produk yang berbeda, namun sama pentingnya. Tidak ada yang di-anak-tiri-kan dan saya ingin semua tetap berjalan sesuai dengan rencana dan target yang saya berikan setiap awal bulan. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Semua bekerja dengan sangat baik dan kompak. Bukan hanya itu, komunikasi antar tim berjalan dengan lancar dan semua anggota saling membantu satu sama lain. Kini, saya tidak perlu khawatir lagi jika saya harus berkegiatan di luar kantor karena semua anggota bisa menyelesaikan semua permasalahan yang datang.

Sribu dan Sribulaner juga sangat jauh dari kompetisi. Sribu dan Sribulancer merupakan 2 produk yang saling melengkapi. Jika ada klien Sribu yang membuat logo melalui Sribu dan membutuhkan pembuatan video untuk perusahaannya, maka kami akan menganjurkannya untuk menggunakan Sribulancer. Dengan sistem kerja yang jelas, tidak ada persaingan antara Sribu dan Sribulancer sehingga semua pekerjaan terhandle dengan baik dan minim konflik.

sribulancer klien
Klien di Sribulancer

 

Menghadapi kenyataan bahwa start-up yang dikembangkan saat ini memiliki scaling problem tentu bukan fakta yang mudah diterima dan diperbaiki. Namun di sisi lain, scaling problem adalah masalah yang common yang sering dihadapi oleh banyak start-up. Beberapa tips yang saya dapat bagikan ketika Anda menghadapi scaling problem:

1. Terima Kenyataan Bahwa Start-up Anda Hit Scaling Problem

Banyak di antara start-up founder yang mengelak bahwa mereka mengalami scaling problem dan tetap berpegang teguh dengan rencana sebelumnya. Namun, apa hasilnya? Jarang dari mereka yang berhasil. Kebanyakan dari mereka akhirnya tutup karena tidak memiliki runway yang cukup untuk menghidupi start-upnya yang sudah terkena scaling problem.

Jadi, begitu Anda tahu bahwa start-up yang Anda jalankan terkena scaling problem, jangan memungkiri hal tersebut dan cobalah untuk menghadapinya. Langsung cari tahu apa saja detail scaling problem dan alternatif solusi apa saja yang mungkin dilakukan.

Namun, untuk memilih, ide mana yang akan dieksekusi sebagai solusi, pilihlah solusi yang paling mudah diimplementasikan dan juga yang paling memberikan dampak positif. Dalam kasus Sribu, kami merasa mengembangkan Sribulancer sebagai produk baru adalah salah satu ide yang cepat dan lebih mudah dilakukan daripada melakukan ekspansi ke luar negeri melalui Sribu.

 

2. Tampung Semua Opini

Sebagai founder start-up, tentu kita tidak bekerja sendiri. Jadi, sangatlah penting bagi seorang founder start-up untuk tidak hanya menanyakan opini user, tetapi juga opini dari anggota tim. Apakah mereka setuju? Atau kah mereka memiliki ide lain untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Selain tanya ke anggota tim, ceritakan dan tanyakan juga ke 2-3 teman dekat Anda untuk masalah yang sedang Anda hadapi ini agar mereka dapat membantu Anda.

Managing 1 product is difficult, 2 is even worse. Banyak hal yang kami korbankan agar kedua produk ini dapat jalan. Pastikan agar sebelum kalian memulai membuat startup, pilih ide yang memiliki market yang besar terlebih dahulu dan tentunya dapat membantu memecahkan masalah di market dengan ini kalian tidak harus pivot dan dapat fokus ke satu produk saja. Stay tuned juga untuk cerita Sribu dan Sribulancer ini di artikel-artikel kami selanjutnya!

 team photo

 

The way to get started is to quit talking and begin doing.” –  Walt Disney


Ryan Gondokusumo

Ryan Gondokusumo

Ryan adalah founder dari Sribulancer, platform untuk mencari freelancer berkualitas dengan cepat dan tepat dan founder Sribu, platform jasa desain grafis online yang telah membantu lebih dari 2.000+ pelanggan. Spesialis UI dan UX design, team building, pengembangan produk, strategic marketing, digital marketing. Anda dapat ngobrol dengan Ryan di twitter via @redjohn_G

  • As always mar Ryan. Inspiring. Saya jadi tahu istilah scaling problem. Nampaknya ini jenis problem yang dihadapi oleh mereka yang mengembangkan/menjual produk spesifik gitu ya mas?. Sukses terus untuk Sribu dan Sribulancer

  • Edwin Yulianto

    Terima kasih atas artikelnya. Sangat menginspirasi. “Hit Scaling Problem”. Kosakata baru bagi saya Mas Ryan.

    • Terima kasih sudah membaca blog Sribu :) Semoga bermanfaat ya, @edwinyulianto:disqus

    • @edwinyulianto:disqus: Terima kasih mas Edwin! Stay tune terus di blog kami untuk cek artikel-artikel selanjutnya!

  • Balski

    Well, saya mulai suka baca tulisan2 di blog ini. Mohon bagikan terus perjalanan Sribu dan Sribulancer yah Mas Ryan, so inspiring :)

    • @balski:disqus: Terima kasih for the kind words Balski dan tentu kami akan publish artikel yang terbaru seterusnya. Kami ada buat artikel baru kemarin ini dan saya ingin share ke Anda juga: http://blog.sribu.com/2015/07/09/cara-lengkap-membuat-video-sribu-yang-meningkatkan-sales-hingga-30/

      • Balski

        Whaa referensi yang keren nih! Kebetulan startup saya juga lagi berencana bikin video buat crowdfunding Mas. Thanks a lot 😀
        Mas Ryan ngga coba ngadain pertemuan sesama founder startup? Atau mungkin semacam camp gitu buat sharing sama pemula kayak saya gini hehe

    • Terima kasih telah membaca blog Sribu, @balski :) Kami akan terus menceritakan perjalanan dan perkembangan Sribu :)

  • Ahmad

    Halo, amat sangat membantu dan membuka wawasan isi artikelnya, kebetulan saya juga lg “bekerja” di start-up saat ini yg lg terkena scalling problem. Dari Artikel ini, bisa jadi salah satu masukan utk team kita.
    Sukses terus Sribu dan Sribulancer, ditunggu artikel lainnya. :)

    • Hi @disqus_anoeyahmad:disqus: Saya senang bahwa artikel kami ini bermanfaat bagi Ahmad dan semoga dapat membantu startup dimana Anda sedang bekerja saat ini :). Sukses terus juga!

  • imam ilmi

    keren mas artikelnya…. nemu artikel ini saat orang bahas pivotnya Google ke Alphabet… eh ada contoh menarik juga di negeri sendiri..

    btw dosen saya di UI dulu namanya Imo Gondokusumo… mas ada hubungan kekerabatan kah? :)

    • @imam ilmi: Terima kasih atas pujiannya :). Oh saya tidak kenal mas…tapi memang nama Gondokusumo banyak hehe.

  • Adrian Hartanto

    Halo Ko..
    Great article :). Semoga sribu dan sribulancer makin sukses..

    • Terima kasih telah membaca artikel dari Sribu Corner, @disqus_PEetrMFmPA:disqus :) Sukses juga untuk Anda :)

  • Uzanks Al Ghifari

    wow, keren ini artikel, artikel ini terkandung pengalamannya dan pembelajarannya, sukses selalu buat sribu dan sribulancer

    • Terima kasih telah membaca artikel Sribu Corner, @uzanksalghifari:disqus. Semoga dapat terus bermanfaat untuk para pembacanya :)

    • @uzanksalghifari:disqus: Terima kasih telah membaca artikel kami :). Sukses terus juga untuk Anda!