Menjadi bagian dari tim Sribu, tentu kami senang sekali ketika Ryan melakukan kick-off meeting pada awal tahun 2015 dan menginformasikan Sribu telah melayani 2.000 klien dalam kurang dari 3 tahun dengan satisfaction rate hingga 98%. What a good beginning, right? Hanya dengan 18 orang, kami telah berhasil membantu ribuan klien mengembangkan bisnisnya melalui branding dan desain via Sribu. Kami merasa sangat bersemangat dan siap untuk menempuh milestone berikutnya, 10.000 klien!

 

Bekerja di start-up company, semua up and down yang terjadi di dalamnya akan sangat begitu terasa pada setiap tim member karena masing-masing sadar sepenuhnya bahwa setiap hal yang dikerjakan akan memiliki pengaruh yang besar terhadap kemajuan start-up company tersebut. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk dapat membuat produk yang bermanfaat bagi banyak orang. Seperti yang diungkapkan oleh Julie Zhuo (Product Design Director Facebook) melalui salah satu blog post miliknya, Julie menjelaskan beberapa perbedaan mencolok antara start-up company dan big company.

 

Setiap start-up company memiliki tujuan yang sama, yaitu membuat satu produk atau pun layanan yang memiliki manfaat bagi banyak orang. Dengan modal yang cenderung kecil, founder dari start-up company harus berani mengambil resiko yang besar karena founder telah mempertaruhkan banyak hal demi perkembangan start-up company yang dimilikinya.

 

Sebuah start-up company biasanya memiliki anggota yang sedikit sehingga setiap tim member harus memiliki tanggung jawab, dedikasi yang tinggi dan teamwork yang bagus, dan karena perkembangan start-up company yang sedang dijalankan hanya akan bergantung pada setiap tim member (Saya menerapkan cara membangun tim kerja yang solid dari salah satu artikel MaxManroe ). Tekanan yang tinggi, dan gerak cepat setiap member memberikan experience dan wawasan yang sangat berbeda dari bekerja di big companies.

Dari Big Company ke Start-up Company…

Dari 18 orang tim kami, ada beberapa yang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan besar sebelum pindah ke Sribu. Ketika masuk ke Sribu, pertama yang mereka semua alami adalah culture-shock!

 

harrys.JPG

Harrys bersama Ryan dan Wenes mempersiapkan press conference Sribulancer

 

“Awal masuk Sribu, saya sempat merasakan perbedaan yang sangat drastis daripada perusahaan lama saya. Setelah beberapa masa, saya mulai menyukai perubahan ini.”

Sebelum bekerja di Sribu sebagai Business Developer Manager, Harrys sempat bekerja untuk perusahaan di bidang training dan business consulting sebagai marketing executive selama lebih dari 1 tahun. Selama 1 tahun pada perusahaan tersebut, Harrys merasa cukup senang karena lingkungan kerjanya yang santai dan teman-temannya yang asyik. Namun sayangnya, sistem kerja yang baku membuatnya merasa sulit untuk mengajukan dan merealisasikan ide baru.

“Saya ingin dapat berkontribusi, ingin ide saya dapat menjadi kenyataan dan itu tidak saya dapat di perusahaan lama. Di Sribu, setiap tim member dapat bebas menyalurkan ide dan kreativitas  mereka selama masih mengacu ke ‘Growth’ perusahaan (Anda bisa menggunakan cara dari Media Bisnis Online untuk meningkatkan kreativitas anggota tim di perusahaan).

Kerja di Sribu tidak bisa lambat, harus cepat. Karena kalau lambat sedikit saja, saya bisa ketinggalan sama yang lain dan itu akan memperlambat kinerja anggota yang lain. Di sini saya dilatih untuk lebih sigap dan cermat dalam menghadapi berbagai situasi. Pokoknya belajar banyak, deh.”, kata Harrys.

Oky adalah Community Champion Sribu yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu stasiun TV ternama selama 5 tahun. Dulu, Oky membuat berbagai video liputan untuk keperluan penyiaran di stasiun TV tersebut. Menurutnya bekerja di media sangat menyenangkan karena sering tugas keluar kota dan banyak kesempatan untuk menemukan berbagai hal baru. Namun sayangnya jadwal dan jam kerja yang tidak teratur, lalu birokrasi manajemen perusahaan yang kaku membuatnya merasa kurang nyaman untuk tetap lanjut bekerja di stasiun TV tersebut.

Jika berbicara mengenai jenjang karier, Oky merasa bahwa bekerja di perusahaan besar dengan jumlah karyawan lebih dari 500 orang belum tentu memiliki jenjang karier yang jelas. Menurutnya, meniti karir di perusahaan besar sangat sulit karena terlalu banyak kompetisi dan internal konflik. Ibaratnya, menjadi karyawan ke 10.001 dari perusahaan besar dengan jumlah 15.000 orang dibanding dengan menjadi karyawan ke-5 dari perusahaan start-up dengan 20 orang, mana yang ingin Anda pilih? Tentunya di perusahaan kecil kontribusi dan tingkat kepuasan apabila mencapai suatu milestone atau achievement akan lebih terasa.

oky.jpg

Oky sedang meng-interview desainer of year Sribu, Yudi Aswanto

 

Kerja di perusahaan start-up seperti Sribu adalah pengalaman yang baru bagi Oky merasakan berbagai perubahan pada pola kerja dan kehidupannya. Oky dituntut untuk menjadi lebih mandiri, bekerja lebih cepat dan juga menjadi lebih detail secara bersamaan.

“Semenjak bekerja di Sribu, saya belajar banyak hal baru di dunia digital. Mulai dari bagaimana membuat email blast, mengelola komunitas, hingga bagaimana membuat survey. Saya juga mulai terbiasa untuk kembali mandiri, bahkan saya menjadi terbiasa untuk mengangkat galon air secara bergantian di sini. Disini teamwork adalah segalanya. Apa pun pekerjaan yang kita rencanakan dan jalankan kita eksekusikan bersama-sama dan hasilnya juga kita nikmati bersama-sama.” Kata Oky

nika.jpg

Nika di kantor Sribu

Sebagai seorang Sales Star di Sribu, Nika telah dibekali pengalaman sebagai account officer selama 6 bulan di salah satu bank ternama. Namun, lingkungan kerja yang formal ditambah dengan gaya pertemanan yang kaku membuat Nika kurang betah dan beralih ke Sribu.

Selama menjadi Sales Star di Sribu, Nika merasa senang dengan suasana hangat dan sistem kerja yang gesit. Selama setahun ini Nika telah berhasil melayani ribuan order di Sribu. Nika merasakan sendiri bagaimana sulitnya proses untuk mendapatkan klien yang membayar di Sribu dan Nika pun menjadi sadar bahwa effort yang diberikan setiap orang di dalam Sribu sangat berpengaruh terhadap pencapaian target Sribu.

“Selama 1 tahun di Sribu, saya mendapatkan berbagai pengetahuan seputar desain sehingga bisa mengerti berbagai istilah-istilah desain yang biasanya hanya diketahui desainer grafis. Selain itu, saya menjadi lebih melek gadget dan belajar banyak mengenai kerjasama tim yang baik. Di sini saya benar-benar merasakan effort dari setiap tim member Sribu untuk mencapai target yang diset oleh Ryan.”

Karakter seperti apa yang cocok untuk kerja di Start-up Company?

Bagi perusahaan start-up, rata-rata memiliki jumlah tim member yang sedikit. Oleh karena itu, tidak semua orang cocok kerja di perusahaan start-up. Karakter yang cocok untuk kerja di Start-up company biasanya adalah mereka yang:

 

1. Proaktif

Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan minimnya tenaga kerja yang dimiliki start-up company tentu akan membutuhkan individu yang proaktif (bagaimana saya membuat tim member menjadi proaktif)  dan berinisiatif  untuk mengerjakan apa yang merupakan bagiannya. Setiap tawaran bantuan dari tim member akan sangat membantu bagi proses penyelesaian pekerjaan tersebut.

 

2. Mandiri

Individu yang mandiri dan bisa mengerjakan sesuatu dengan petunjuk yang minim merupakan sosok yang dibutuhkan start-up company. Dengan begitu, setiap individu yang bekerja tidak perlu menunggu diajarkan atau pun diberi arahan secara detail untuk mengerjakan tugasnya sehingga pekerjaannya lebih banyak selesai.

 

3. Mau Belajar Apa Saja

Bekerja untuk sebuah start-up company berarti siap untuk belajar banyak hal, termasuk hal yang jauh hubungannya dengan bidang kemampuan yang dikuasai. Dengan begitu, setiap tim member bisa saling bantu membantu dalam mengerjakan sesuatu agar cepat selesai.

 

4. Optimis dan Memiliki Mindset yang Benar

Right mindset

Kebanyakan start-up company yang ada belum mencapai kesuksesan, sehingga setiap tim member di dalamnya harus memiliki visi yang sama dengan founder-nya  dan optimisme bahwa start-up company tersebut bisa mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

 

Apa keuntungan untuk bekerja di Start-up company?

1. Start-up company biasanya memiliki tim yang lebih kecil daripada corporate company. Maka apabila Anda bekerja di start-up company, kontribusinya lebih terlihat. Istilahnya lebih baik menjadi karyawan ke 5 dari perusahaan yang memiliki 15 tim daripada menjadi karyawan dari perusahaan besar ternama yang memiliki lebih dari 1.000 karyawan.

 

2. Anda dapat merasakan hasil dari apa yang Anda implementasikan. Ini dikarenakan di start-up company biasanya adalah perusahaan yang baru mulai atau baru berkembang, maka produk dan sistemnya masih belum baku atau bahkan belum dibuat. Anda dapat lebih menyalurkan ide yang Anda miliki dan merealisasikan menjadi kenyataan. Di perusahaan besar dimana produk dan sistem sudah terbentuk dan established Anda hanya dapat melakukan peningkatan pada produk dan sistemnya namun tidak dapat membuatnya dari nol.

 

3. Melatih Anda untuk multi-tasking dan berkembang dengan lebih cepat. Sebelumnya telah kami share bahwa start-up company memiliki tim yang kecil. Oleh karena itu pasti setiap tim member akan mengerjakan lebih dari 1 scope pekerjaan dan kadang hingga 3-4 pekerjaan di saat bersamaan. Ini melatih Anda untuk dapat mengambil keputusan dengan cepat, melakukan time management yang baik dan juga bekerja under pressure,  Anda bisa mencoba bekerja secara multitasking karena lebih produktif dan tentu saja cara yang efektif.

 

4. Apabila ingin membuat start-up ke depannya, bekerja di start-up company adalah persiapan terbaik.

Entering Startup

Bagaimana dengan Anda?

 

Dengan sistem kerja dan budaya yang diaplikasikan start-up company, saya semakin yakin bahwa tidak semua orang cocok untuk bekerja di start-up company. Dibutuhkan kemampuan bekerja dan berkomunikasi yang berbeda antara bekerja dalam start-up company dengan bekerja pada big company.

 

Working for big company or start-up company? It’s your call.

 

makan bareng di sushi tei.JPG

P.S. Bagi Kamu yang ingin merasakan sendiri bagaimana bekerja di perusahaan start-up, kamu bisa juga menjadi bagian dari tim Sribu, dan bersama membangun worldwide company yang membantu banyak orang.


Shriyadita Yenie

Shriyadita Yenie

Copywriter di Sribu.com. Pembaca buku yang memiliki banyak cerita. Penikmat Indomie Goreng Spesial dan berbagai teh yang mendapatkan gelar sarjana ilmu komunikasinya di Universitas Tarumanagara pada tahun 2014.

  • Nofa Riyanto Nurhuda

    Good Article Yenie!
    Sangat menginspirasi.

    • Terima kasih @nofa untuk pujiannya! Senang bisa berbagi cerita dengan para pembaca :)

    • @nofariyantonurhuda:disqus: On behalf of Yenie, terima kasih atas komplimennya :)

  • samsul

    amazing

  • akkdasdkasdaskdka

    kueren

  • Wah ini artikelnya keren sekali. terima kasih banyak untuk artikelnya :)

    • Sama-sama @aliko :) Semoga bermanfaat, ya

    • Ian Falezt

      Iya, santai mas….

    • Sama-sama @sunawang:disqus :) Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat ya artikelnya 😉

  • Herii Purnama

    nice

    • Terima kasih @heriipurnama:disqus semoga artikelnya bermanfaat :)

  • Jadi pengen gabung di sribuuu.. Thanks atas artikelnya yang udah menginspirasi..

    • Terima kasih @nanonimos.com :) Coba saja kirimkan CV atau resume sesuai dengan loongan pekerjaan yang tersedia di Sribu. siapa tau cocok 😉

      • agung

        kemna ya mbak pengen banget gabung dgn sribu

  • Sudah besar skarang ya tapi masih sribu,..(y)

  • jalanja-com

    Seru memang bekerja di start-up company, bisa banyak belajar bidang-bidang baru karena sering bantuin department lain

    • @jalanja: Betul, bekerja di start-up company ter-expose ke banyak departement.

  • U know who

    apakah start up harus dalam bidang IT kalau construction bisa gak?

    • Moki SR

      Maaf numpang share komentar, saya rasa bukan di bidang IT, tapi secara garis besar startup memanfaatkan IT. Jadi saya rasa, segala usaha bisa jadi startup.

  • agung

    saangat memacu semangat klo bergabung alamatnya dimana ya ..

  • Suryadi Achmad

    Halo mas Ryan,
    boleh saya dapat alamat emailnya mas?

    Terimakasih,
    Salam