Apa 1 Sifat Yang Pasti Dimiliki Setiap Manusia?

being lazy illustration

Halo Sobat Sribu! Selamat datang kembali di series artikel 7 Emosi Marketing.

Di series ini, saya akan bahas mengenai perasaan dan sifat manusia yang bisa dimanfaatkan untuk membuat brand & produk Anda lebih menarik bagi para pembeli.

Sebelumnya, kita sudah pelajari mengenai emosi pertama, kepercayaan, dan bagaimana pembeli mustahil tertarik bertransaksi jika Anda tidak bisa mendapatkan emosi tersebut.

Cara mendapatkannya pun cukup mudah, karena ada 3 karakteristik dari bisnis yang bisa Anda “sombongkan” melalui konten.

Pelajari selengkapnya di artikel terkait ya!

Oke, kembali ke pembahasan minggu ini..


Kita semua sebagai manusia — ya, semua — adalah makhluk yang malas.

Hal ini dibuktikan oleh sekelompok peneliti neurosains dari Kanada, yang melalui sebuah riset menyatakan bahwa otak manusia selalu otomatis lebih menyukai aktivitas yang bersifat sedentari (tidak mengeluarkan banyak tenaga) dibanding kegiatan yang membutuhkan banyak gerakan.

Bahkan ketika kita dipaksa untuk melakukan sesuatu yang memerlukan tenaga, otak kita akan menyesuaikan atau mencari cara supaya tubuh bisa melakukan hal tersebut secara lebih ringan.

Singkatnya, otak kita telah “terprogram” untuk membuat segala hal yang kita lakukan menjadi semudah mungkin.

Ketika kita baru bangun tidur, gravitasi bumi sering terasa menjadi lebih berat.

Rasanya.. seakan-akan ada sebuah energi ajaib yang membuat tubuh kita “melekat” ke tempat tidur dan bantal.

Ini bukan masalah unik yang hanya dialami beberapa orang, faktanya otak manusia memang selalu malas untuk menggerakkan tubuh.

Mungkin konotasi negatif kata “malas” bisa membuat pembahasan ini jadi sedikit sensitif, oleh karena itu saya coba rangkum pernyataan-pernyataan di atas menjadi 1 kalimat saja:

Manusia selalu lebih menyukai hal yang bersifat praktis.

Ini adalah kalimat yang harus dicatat oleh Anda sebagai pemilik bisnis.

MALAS BERGERAK = MALAS BERPIKIR

Melancholic woman watching video on laptop at home
Foto oleh Andrea Piacquadio di Pexels

Walaupun di atas saya menyebutkan bahwa manusia tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan usaha fisik, kita harus pahami bahwa ini pun berarti bahwa manusia juga tidak suka memutar otak.

Coba pikirkan..

Ketika diberi suatu tugas — untuk sekolah atau pekerjaan, misalnya — kita pasti akan mencari cara termudah yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.

Ini membuktikan bahwa sifat “malas” manusia bukanlah hal yang negatif, kita memang hanya selalu ingin mencari cara/langkah yang paling efektif.

Apa yang biasanya kita lakukan jika tidak tahu jawaban atas sebuah teka-teki? Kita pasti akan langsung bertanya kepada Google.

Artinya, audiens akan lebih tertarik ketika brand dan produk yang Anda jual tidak membuat mereka perlu mengeluarkan energi banyak untuk bergerak dan berpikir.

(Perlu dicatat juga bahwa ini bisa mencakup produk itu sendiri, ataupun cara melakukan transaksi.)

Untuk menyampaikan kemudahan ini, tentunya Anda bisa memanfaatkan konten seperti video iklan, poster, atau semacamnya:

remington typewriter advertisement
Iklan mesin tik Remington dari tahun 1873

(Ini adalah sebuah strategi yang telah diterapkan oleh pebisnis sejak dulu kala karena memang terbukti efektif menarik perhatian konsumen!)

Dengan memberi tahu bagaimana produk Anda bisa membuat hidup lebih mudah, otak audiens akan langsung merasa tertarik karena kecenderungan-kecenderungan yang telah kita bahas di atas.

Segala sesuatu yang membuat kehidupan lebih praktis akan mencuri perhatian secara otomatis!

MENYAMPAIKAN KEMUDAHAN, SECARA MUDAH

Seperti pembahasan di artikel “7 Emosi Marketing” sebelumnya, ada beberapa kata kunci yang bisa secara kuat “berbicara” kepada perasaan/sifat audiens melalui konten promosi.

Terkait kemalasan manusia, kata-kata kunci tersebut antara lain “mudah“, “dasar” (“basic”), “tanpa (kata kerja bersifat negatif, seperti “pusing”), “cepat“, dan “cukup (kata kerja yang menggambarkan kemudahan, seperti “klik”).

Mari kita pelajari beberapa contoh dari dunia nyata dan bagaimana mereka menggunakan prinsip ini untuk menarik perhatian:

MyT accounting advertisement
Iklan software akuntansi, MyT

Kata “mudah” (“easy”) terutama akan sangat membantu jika produk yang Anda tawarkan adalah sesuatu yang mengharuskan konsumen memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu.

Pada contoh di atas, software akuntansi — yang tentunya memiliki target market yang cukup spesifik — dapat dibuat lebih menarik untuk pemilik bisnis “biasa”, bahkan jika mereka tidak memiliki latar belakang di bidang akuntansi.

Metode ini bisa membuat produk-produk serupa tidak terlihat/terasa terlalu mengintimidasi.

Lihat bagaimana perusahaan asal Amerika Serikat, Coinbase, merayu audiens yang malas berpikir untuk mempelajari jual-beli mata uang kripto hanya dengan menggunakan kalimat “to get started” (“untuk memulai”).

coinbase advertisement
Iklan platform jual-beli kripto, Coinbase

Jika iklan dibuat menjadi “untuk ahli” atau “khusus yang berpengalaman”, tentu akan banyak audiens pemula yang ingin masuk ke dunia tersebut merasa “ngeri”.

Audiens akan berpikir bahwa menggunakan platform tersebut mengharuskan mereka untuk belajar terlebih dahulu, dan seperti yang telah kita ketahui, manusia selalu malas untuk belajar/berpikir.

Mari lihat contoh selanjutnya:

honda malang advertisement
Iklan Honda Sukun Malang

Sadar atau tidak, hanya menunggu pun adalah sebuah aktivitas yang bisa menguras energi.

Artinya.. audiens pun akan lebih tertarik terhadap suatu penawaran yang bisa selesai secara cepat.

Oleh karena itu, kata-kata seperti “cepat” dan “kilat” adalah kata kunci yang juga bisa menarik bagi sisi malas audiens.

Ketika audiens bisa melihat manfaat praktis yang produk dan bisnis Anda tawarkan, jiwa malas mereka pun akan terpanggil secara instan.


A Boy and a Girl Sitting on Sofa With Smart Phones in Hands
Foto oleh Karolina Grabowska di Pexels

Terutama terkait konten (seperti yang sudah saya sampaikan di artikel “7 Emosi Marketing” sebelumnya), hal terpenting yang bisa Anda lakukan adalah membuat sesuatu yang dapat “berbicara” kepada audiens secara emosional.

Dalam kata lain, Anda harus mengerti kepribadian — baik ataupun buruk — yang dimiliki oleh konsumen.

Walaupun sifat malas seseorang seringkali dilihat sebagai hal yang negatif, sebenarnya ini bisa menjadi sebuah berkah untuk pebisnis!

Ketika Anda mengerti bahwa ini adalah sifat alami yang dimiliki semua orang, Anda bisa menyesuaikan konten, produk, ataupun layanan bisnis untuk memanfaatkan fakta ini.

Mudahnya..

Supaya audiens bisa menjadi pelanggan, mereka harus bisa Anda manjakan!