Bagai Pinang Dibelah Dua, Serupa Namun Berbeda

Kalian tahu tidak perbincangan hangat akhir-akhir ini tentang polemik brand kecantikan MS Glow vs PS Glow?

MS Glow adalah perusahaan milik Shandy Purnamasari yang bergerak di industri kecantikan dengan memproduksi produk skincare, sedangkan PS Glow merupakan brand kosmetik milik pengusaha Putra Siregar bersama sang istri Septia Yetri Opani. 

Perusahaan yang awalnya terkenal dari bisnis gadget PStore, mulai merambah ke bisnis kecantikan dengan brand PStore Glow atau PS Glow sejak 2021.

Kasus ini bermula dari kisruh hak cipta merek dagang PS Glow yang mirip dengan MS Glow.

Memang, merek dagang adalah salah satu hal yang penting bagi perusahaan agar mudah dikenali oleh masyarakat.

Apalagi sekarang eksistensi MS Glow sedang di atas langit, pasti mereka risih dengan kemiripan merek dagang dengan PS Glow.

Wajar saja jika MS Glow mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri terkait kasus ini.

Tiru Sajalah…

Jika bisnis, ide atau produk Anda menjadi sasaran perilaku peniru yang konstan, maka Anda tentu tidak sendirian.

Fenomena saling tiru memang sering terjadi, termasuk dalam dunia kecantikan, fashion hingga teknologi.

Contohnya, brand sekelas Dolce & Gabbana pernah menjiplak desain kalung karya desainer kawakan Vivienne West Wood yang sudah ia rilis di tahun 1989.

Sekilas, kedua desain kalung tersebut tampak mirip satu sama lain.

Namun saat diamati, ternyata kedua kalung itu memiliki merek yang berbeda.

Meniru biasanya dilakukan untuk meminimalisir biaya, resiko kegagalan dan efisiensi waktu.

Selain itu, meniru juga bisa mengecilkan pasar dan melihat pola yang dilakukan oleh kompetitor.

Tapi, jikalau bisnis memiliki inovasi unik, Anda akan mendapatkan pengaruh besar dan bisa membalikkan keadaan karena unggul dalam pasar.

Contohnya di tahun 2012, saat Snapchat mengeluarkan fitur my story dan dalam sekejap jumlah penggunanya naik drastis.

Namun, kejayaan tersebut terhenti manakala Instagram mengeluarkan fitur Instagram Stories dan mampu mengalahkan Snapchat dengan fitur boomerang, instagram live, dan juga hands-free

Hal ini diperkuat oleh laporan TechCrunch, yang menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif Instagram melonjak tinggi mencapai 200 juta, mengalahkan Snapchat yang hanya 161 juta pengguna.

Langkah Dolce & Gabbana dan Instagram mencontek ide kompetitor lain tersebut telah menjadi hal umum dalam persaingan bisnis.

Hal ini biasanya dianggap sebagai penyempurnaan atau inovasi dari hal yang sudah ada.

Namun, apakah langkah ini akan selalu berhasil?

Sebenarnya, ketika sebuah bisnis meluncurkan produk atau layanan yang sukses, kompetitor mungkin akan merasa terdorong untuk menciptakan sesuatu yang serupa.

Tapi, strategi ini tidak selalu berhasil.

Mengapa?

Pertama, meniru bisnis yang sukses tidak akan membuat bisnis Anda menjadi lebih baik, karena biasanya Anda hanya meniru efek kesuksesan daripada penyebabnya.

Kedua, keberuntungan tidak bisa ditiru. Terkadang dalam dunia bisnis, ada faktor keberuntungan dan hal tersebut tidak bisa terjadi dua kali.

Misalnya, saat perusahaan berada pada titik di mana mengalami kinerja di bawah standar akibat dari strategi yang kurang baik.

Namun hanya karena sedikit beruntung, keadaan perusahaan tiba-tiba menguntungkan dan tidak mengalami kerugian.

Ketiga, mencontek kompetitor hanya memberikan efek yang singkat, sedangkan inovasi yang tepat akan membantu Anda tetap bertahan ditengah persaingan yang ketat.

Walaupun begitu, ada hal yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Misalnya, Anda memiliki bisnis online di Instagram.

Daripada hanya memiliki satu konten, lebih baik produksi sepuluh konten secara konsisten sehingga peluang viral bisa terbuka lebih lebar.

Postingan yang di-update terus menerus bisa menarik calon konsumen karena akan muncul di fitur Explore Instagram. 

Maka dari itu, buatlah postingan yang menarik sesuai dengan target market Anda. 

Terakhir, jangan lupa tarik perhatian konsumen dengan gambar yang menawan serta caption yang relevan.

Sama seperti yang sedang saya lakukan sekarang: menulis artikel website agar masuk ke halaman pertama Google.

Sebagai seorang content writer, saya harus memperhatikan topik dan keyword artikel yang akan dibahas atau digunakan.

Selain itu, saya juga mempertimbangkan panjang pendeknya artikel yang hendak dibuat, karena bisa berpengaruh terhadap ranking di mesin pencarian Google. 

Konon, konten artikel blog dengan panjang lebih dari 3000 kata memiliki performa yang lebih baik di mesin pencarian dibandingkan dengan artikel yang panjangnya hanya 900 – 1200 kata. 

Tetapi, bukan berarti semua konten yang dibuat itu harus panjang-panjang, ya. 

Anda harus bisa menyesuaikan artikel dengan target, tujuan, dan jenis konten yang diinginkan.

Produce more to increase the chances of success!

Ditiru lagi???

Namun, bagaimana jika perusahaan Anda ditiru oleh kompetitor lain?

Ketika kompetitor meniru ide dan mengklaim bahwa mereka berada di ranah yang sama, pasti Anda merasa dirugikan dari tindakan tersebut.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika bisnis Anda menjadi target peniru?

Selamat! Itu artinya Anda berada jauh di depan kompetitor.

Di sisi lain, Anda bisa membuat ejekan humor tanpa amarah untuk kompetitor tersebut. 

Memang… mungkin Anda tidak dapat memenangkan seluruh dunia.

Tetapi dengan cara ini, Anda dapat mengungkapkan kebenaran secara terbuka dan ini adalah cara yang baik dan memuaskan.

Contohnya, seperti kasus Burger King yang mengejek menu Big Mac McDonald’s.

Jika kompetitor menyalin Anda, itu berarti Anda melakukan pekerjaan dengan baik. 

Tetap berada di depan mereka. 

Biarkan mereka meniru dan menyebarkan ide-ide Anda.

Selain itu, gunakan momen ini untuk “me-rajai” pasar Anda sendiri. 

Misalnya, ketika Apple menciptakan iPad, yang sebenarnya menggantikan beberapa iPhone dan Macbook. 

Mengapa mereka melakukan itu?

Jika Apple tidak melakukannya, maka perusahaan lain akan menemukan “iPad”-nya sendiri dan memakan keuntungan tersebut.

Ibaratnya, jadilah yang terdepan dengan berani membuat produk Anda sendiri menjadi usang dengan terus berinovasi dan berproduksi.

Kasus lainnya, saat upaya HP Touchpad menyontek iPad Apple yang berakhir rugi ratusan juta dolar.

Atau, Microsoft yang secara spektakuler gagal bersaing dengan iPod dengan peluncuran perangkat media digital serupa, Zune.

Untungnya, meskipun mudah untuk ditiru, jauh lebih sulit untuk meniru kesuksesannya juga, kan?


Perlu digaris bawahi bahwa menjadi yang pertama bukanlah jaminan kesuksesan.

Apple bukanlah smartphone pertama.

Facebook bukanlah jejaring sosial pertama.

Tesla bukanlah mobil listrik pertama.

Dan, Google bukanlah mesin pencarian pertama.

Mereka semua terus berinovasi dan membawa ide-ide baru ke depan.

Mereka mengambil inspirasi dari berbagai sumber, tetapi tidak mengangkat inovasi tersebut secara grosiran.

Inilah yang harus Anda lakukan daripada membuang-buang energi untuk mengkhawatirkan peniru.