Eksistensi Melekat Seperti Permen Karet

Ingatkah Anda tentang persaingan terang-terangan Samsung dan Apple beberapa tahun lalu?

Pada saat itu, Samsung meluncurkan produk tipe terbaru yaitu Samsung Galaxy. 


Dalam iklannya, Samsung secara gamblang menyentil produk iPhone dari generasi awal hingga iPhone X.

Iklannya berkisah tentang seorang penggemar iPhone, yang jatuh hati dengan wanita pengguna Samsung Galaxy. 

Ceritanya fokus membahas kekurangan iPhone, yang selalu tertinggal dari segi fitur ataupun teknologi.

Tapi, mengapa Samsung lebih memilih menyinggung Apple daripada brand lain?

Jawabannya, karena Apple memiliki sticky branding


Sticky artinya melekat, sticky brand adalah brand yang melekat di konsumen. 

Jadi, saat pelanggan ingin berbelanja, produk yang memiliki sticky brand selalu terpikiran pertama kali dan didatangkan dahulu.

Setelahnya, pelanggan akan terus kembali lagi dan lagi. 

Inovator yang Stand Out

Ciri khas utama perusahaan yang memiliki sticky brand bisa dilihat dari inovasi yang luar biasa dan stand out. 

Mereka tidak mengikuti alur atau pergi ke tempat yang sudah dikunjungi orang lain. 

Mencari peluang baru, terus berinovasi dan punya berbagai macam gebrakan.

Menghargai dan berinvestasi pada desain, rasa, dan fungsionalitas produk, mampu membuat daya pikat tersendiri.

Oleh karena itu, kita semua pasti setuju bahwa Apple memiliki sticky brand itu.

Ini pasti sangat melekat di kepala Anda, apalagi logo berbentuk buah apel menambah keunikannya.

Mengikuti Masa dan Tetap Relevan 

Perusahan yang menyandang sticky brand selalu mengikuti waktu. 

Mereka memiliki karakter yang kuat dan menonjol sebagai pemimpin dan inovator. 

Fokus dan komitmen menjadikan mereka ahli di bidangnya sehingga menghasilkan keputusan yang strategis. 

Alhasil, orang-orang terpikat karena mereka ulung dalam memenangkan pasar.

Pelanggan menjadi tahu siapa mereka, apa yang mereka lakukan, siapa yang mereka layani, dan apa yang mereka jual.

Perusahaan dengan sticky brand berperilaku seperti pengrajin daripada pabrik. 

Perhatian mereka terhadap detail adalah mutlak.

Ini terpancar melalui produk, layanan, operasional, pemasaran, sampai ke setiap titik pelayanan pelanggan yang fungsional. 

Ada kualitas permanen untuk poin tersebut.

Berenergi

Sticky brand mempunyai energi dan semangat dalam perusahaan mereka. 

Karyawan senang bekerja untuk perusahaan.

Pelanggan menghargai dan membicarakan produk, dan ada kualitas terbaik pada brand.

Namun, tidak semua mampu memiliki sticky brand karena cukup sulit didapatkan.

Menciptakannya butuh strategi, komitmen, kerja keras serta eksekusi yang matang.

Walaupun terdengar sulit, namun ini patut diperjuangkan.

Dalam kasus ini, iPhone memiliki sticky brand yang lebih melekat daripada ponsel genggam Samsung, karena sudah melekat sebagai trendsetter.

Selain itu, karakter iPhone juga terasa lebih eksklusif dan mampu membuat pamor seseorang terangkat karena memilikinya.

Memiliki sticky brand memang sangat penting, apalagi untuk perusahaan besar. 

Namun, apakah perusahaan kecil bisa mendapatkannya?

Sticky Brand adalah Sebuah Pilihan

Pilihan agar bisa memikat hati pelanggan.

Pilihan untuk berinovasi dan mendorong penjualan.

Pilihan untuk membangun hubungan yang bermakna dengan pelanggan.

Ketika memiliki sticky brand, pelanggan akan memprioritaskan Anda terlebih dahulu dibanding brand lain, kemudian akan kembali lagi, lagi dan lagi.

Pertanyaannya, “Apakah mereka memilih brand Anda terlebih dahulu?”.

Sticky brand adalah branding. Branding adalah strategi.

“Bagaimana memulainya?”

“Apa saja yang dibutuhkan?”

Itu semua menyatukan tujuan dan visi, demi kepuasan pelanggan.

Sekarang, mari kita ingat-ingat saat memikirkan brand ikonik.

Warna. Teman terbaik logo.

Perusahaan-perusahaan sticky brand menggunakan warna konsisten dalam pemasaran secara online atau cetak.

Contohnya, warna merah Coca-Cola dapat dikenali di segala hal mulai dari botol, truk pengiriman hingga iklan web.

Lainnya, ada hijau dan hitamnya Starbucks yang ditampilkan di cangkir, papan nama, serbet, dan di dekorasi toko mereka.

Ide ini bisa diterapkan untuk bisnis Anda. Pilih dua warna utama dan gunakan secara konsisten dalam branding.

Brand Voice

Singkatnya ini adalah kalimat komunikasi yang bisa menjadi identitas perusahaan dan mudah diingat oleh pelanggan. 

Brand voice bisa kita jumpai pada kalimat “I’m lovin it” sebagai tagline McDonald’s atau “Cintai Ususmu, Minum Yakult Tiap Hari”, kalimat identik dengan minuman probiotik Yakult.

Kepercayaan

Saat ini kita hidup di era digital, yang banyak sekali menjual berbagai macam produk.

Banyaknya pilihan dapat mengikis loyalitas pada brand

Jika kebutuhan vendor tidak dapat terpenuhi, maka mereka dapat pergi ke kompetitor untuk mencoba hal baru. 

Masalah ini dapat diatasi jika Anda memiliki sticky brand yang kuat. 

Pelanggan akan mengenali keunikan dan keistimewaan brand Anda, sehingga akan dicari terlebih dahulu ketika mereka membutuhkannya. 

Kenyamanan dan kepercayaan pada perusahaan Anda, memenuhi kebutuhan mereka untuk berbelanja.

Loyalitas

Sticky brand identik dengan pembelian berulang. 

Foto Shutterstock oleh Apple Store

Misalnya, pada saat kemunculan iPhone 7 dan 7 Plus yang memang sangat dinanti para pengguna setianya.

Mereka rela antre sejak kemarin sore, bahkan menginap dan menunggu berjam-jam demi mendapatkan produk terbaru dari Apple.

Ada kebanggaan dan kegembiraan ketika memiliki produk tersebut. 

Itu adalah pelanggan yang hebat, yang ciptakan dari produk hebat dan layanan luar biasa perusahaan Anda.


Sticky brand tidak terjadi secara kebetulan ataupun dalam satu malam.

Semua itu harus dibangun, dipelihara dan diinvestasikan.

Starbucks, Apple, dan brand lainnya terus berinovasi dan bekerja keras untuk tumbuh menjadi besar seperti sekarang.

Semua dimulai secara bertahap, namun pasti.

Anda dapat menumbuhkan sticky brand sendiri untuk perusahaan, dimulai dengan pilihan Anda saat ini.

WhatsApp Consultation Button