EP 12: Era of Automation, The Future of Work

Selamat datang di episode SribuTalks ke-12.

Kali ini kami akan membicarakan sebuah topik menarik tentang munculnya Era Otomatisasi. Teknologi baru telah membuka era baru dalam otomatisasi bagi produsen—di mana manusia dan robot akan semakin bekerja berdampingan… atau benarkah?

Berikut rangkuman pendek mengenai topik yang kami bicarakan.

Untuk mendengar podcast sepenuhnya dapat klik di sini.

1. New Zealand Melarang Rokok untuk Generasi Mendatang

New Zealand akan melarang penjualan tembakau ke generasi berikutnya, dalam upaya untuk akhirnya menghentikan kebiasaan merokok.

Siapa pun yang lahir setelah tahun 2008 tidak akan dapat membeli rokok atau produk tembakau seumur hidup mereka, berdasarkan undang-undang yang diharapkan akan diberlakukan tahun depan.

“Kami ingin memastikan anak muda tidak pernah mulai merokok,” kata Menteri Kesehatan Dr. Ayesha Verall.

Para dokter dan pakar kesehatan lainnya di negara itu menyambut baik reformasi “terdepan di dunia”, yang akan mengurangi akses ke tembakau dan membatasi kadar nikotin dalam rokok.

“Ini akan membantu orang berhenti atau beralih ke produk yang kurang berbahaya, dan mengurangi kemungkinan anak muda kecanduan nikotin,” kata Prof Janet Hook dari University of Otago.

Ini menjadi gerakan sangat besar bagi sebuah negara. Semasa pandemi Covid-19, ternyata jumlah perokok meningkat di kalangan muda.

Lalu, apa yang terjadi jika peraturan ini ada di Indonesia? Apakah mereka harus kehilangan pekerjaannya? Ada yang bilang pemerintah harus siapkan lapangan kerja untuk para petani tembakau. Dengarkan SribuTalks untuk pembahasan tuntasnya!

2. Toko Tanpa Kasir, Bayar Sendiri Pakai Mesin

Jepang menjadi negara yang bersih, modern, dan sangat canggih bagi kami. Salah satu yang membuat kagum adalah teknologi di sana dipakai secara totalitas.

Rumah bagi lebih dari 55.000 toko serba ada dan 8.000 supermarket yang melayani 127 juta orang, membentuk pasar ritel terbesar kedua di dunia. Dengan pendapatan supermarket $600 miliar yang terkumpul, kota ini adalah tempat ujian yang sempurna untuk checkout mandiri.

Bayangkan, pergi ke sebuah toko baju. Tidak ada kasir maupun karyawan. Bayar hanya dengan meletakkan keranjang belanja ke dalam mesin dan semua barang akan dihiitung otomatis.

Jepang telah lama menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja karena populasinya yang menua. Dibandingkan dengan China di mana tenaga kerja murah (dan dengan demikian toko tak berawak gagal lepas landas), solusi checkout otomatis telah menjadi jawaban untuk masalahnya.

Dengan situasi COVID seperti ini, kami rasa ada bagusnya juga teknologi ini dikembangkan. Karena bisa mengurangi bertemunya orang dan bisa menurunkan potensi penyebaran virus.

Tak perlu jauh ke Jepang, negara tetangga kita di Singapura juga sudah melakukan hal yang serupa.

Apakah ini menjadi tanda Era Otomatis sudah berjalan dan menjadi masa depan dalam pekerjaan?

3. Robot Barista di Singapura, Jadi Semua Serba Otomatis?

Pada tahun 2015, Keith Tan membuka kafe Crown Coffee pertama di CT Hub 2, menawarkan kopi Buscaglione bersama sandwich panini.

“Crown Coffee adalah salah satu pengadopsi paling awal dari produksi kopi yang sepenuhnya otomatis, dan merek tersebut segera berkembang menjadi kafe pintar pada tahun 2017,” kata sang pendiri.

“Namun, ketika saya berencana untuk membuka lebih banyak gerai Crown Coffee, kami menghadapi tantangan seperti kekurangan tenaga kerja dan biaya overhead yang tinggi (seperti) tenaga kerja dan sewa. Margin laba rendah yang dihasilkan membuat kami sulit untuk maju.”

Hal ini membuatnya menyadari perlunya otomatisasi agar bisnis F&B dapat berkembang.

Mereka akhirnya mengembangkan ELLA, robot barista pertama di Singapura, dan robot barista pertama yang sukses di dunia. ELLA menghadiri lebih dari 400 acara perdagangan, melayani rata-rata 800 cangkir per hari. Orang-orang menyukai gagasan tentang robot barista dan mereka menerima umpan balik yang sangat menggembirakan tentang kualitas kopi.

Pertanyaannya:

Apakah dengan menggantikan pekerja manusia menjadi robot, akan menghilangkan lapangan kerja?

Menurut kami tidak demikian. Karena robot pasti butuh pemeliharaan dan pada akhirnya manusia tetap akan bekerja berdampingan dengan robot, namun manusia menjadi orang di balik layar.

Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Anda dapat mendengarkan diskusi kami tentang berkembangnya Era Otomatis, point of view kami secara positif tentang ini hanya di SribuTalks Episode 12 di bawah ini:


Anda juga bisa klik tombol di bawah ini untuk dengarkan langsung lewat halaman Spotify SribuTalks:

Anda juga bisa ketik pertanyaan Anda di Google dan tambahkan Blog Sribu di akhir pertanyaan tersebut. Ini menunjukkan artikel terkait dari Blog Sribu, yang kualitasnya sudah tentu terjamin.

 

Exit mobile version