Dapatkan Strategi Branding dan Marketing untuk Meningkatkan Penjualan

When 2 Become 1.. Seperti Gojek dan Tokopedia

Selama WFH imbas dari covid, ada dua notifikasi yang paling saya tunggu,

“Pesanan Anda sudah dalam pengiriman”

atau

“Pesanan sesuai aplikasi ya”

Selang beberapa menit, tidak luput dari teriakan lantang “PAKEEEET!”.

Tentu saja jasa abang kurir dan kang ojol menjadi penyelamat hidup saya selama bekerja di rumah. Dan sejak pandemi, saya semakin sering menggunakan kedua aplikasi hijau, yaitu Gojek dan Tokopedia.

Mungkin itu juga alasan kenapa berat badan saya naik.

Belum lama ini, kedua startup unicorn Indonesia tersebut baru saja mengumumkan bahwa mereka merger menjadi GoTo.

goto gojek tokopedia

Saya berpikir, merger ini pasti akan berpengaruh ke saya sebagai konsumen. Mungkin saya bisa membayar paket dengan GoPay, atau semakin banyak pilihan makanan yang bisa saya pesan. Tapi sebelum itu…

Apa sih maksud dari merger?

Secara umum, definisi merger adalah bergabungnya beberapa perusahaan dan beroperasi dalam satu badan hukum. Biasanya, perusahaan yang merger tersebut memiliki skala bisnis yang seimbang antara satu dan lainnya.

Lalu, mengapa Gojek dan Tokopedia memutuskan untuk merger?

Apakah Anda masih ingat film Avengers: Infinity War? Ada sebuah adegan Iron Man bertarung melawan Thanos di planet Titan. Dari pertarungan sengit itu, Thanos yang kuat dengan mudah mengalahkan Iron Man.

Lalu di beberapa adegan setelahnya, Thanos tiba di Wakanda dan sempat bertarung singkat dengan Captain America.

Hasilnya?

Mereka berdua kalah dan Thanos berhasil mencapai tujuannya untuk menghilangkan 50% populasi dunia.

Pada film selanjutnya di Avengers: Endgame, mereka tak lagi bertarung secara terpisah.

Para Avengers akhirnya menghadapi Thanos bersama-sama sebagai tim dan berhasil mengalahkan Thanos untuk selamanya.

Lalu apa hubungannya film Avengers dengan merger Tokopedia dan Gojek?

Anggaplah Tokopedia = Captain America dan Gojek = Iron Man

Semakin sengitnya kompetisi pasar, akan sulit untuk menang apabila berjuang sendirian dan merger merupakan strategi yang umum dilakukan berbagai perusahaan untuk melewati rintangan ini.

Mungkin Anda tidak tahu kalau ternyata banyak juga perusahaan yang menjadi semakin besar dan sukses karena proses merger. Berikut ini beberapa contohnya:

  • PT Toyota Astra Motor adalah hasil merger dari PT Toyota Mobilindo, PT Multi Astra, dan PT Toyota Engine Indonesia
  • Bank CIMB Niaga dari Bank Lippo dan Bank Niaga.
  • Disney Pixar dari Walt Disney Company dan Pixar Entertainment

Setelah melihat nama-nama perusahaan di atas, pasti Anda mulai berpikir….

Apakah merger adalah strategi yang tepat untuk bisnis saya?

Hold your horses!

Sebelum mengambil keputusan itu, Anda perlu tahu secara rinci mengapa perusahaan melakukan merger. Anda (mungkin) bisa lakukan merger jika perusahaan Anda ingin lakukan:

1. Inovasi dan Pengembangan Produk

Pengembangan produk itu sangat beresiko, baik dari segi kualitas produk, penerimaan pasar, perizinan, dan lainnya.

Kalau Anda lakukan merger dengan perusahaan lain dengan valuasi yang lebih tinggi, mungkin Anda bisa punya posisi yang lebih kuat untuk mengembangkan produk.

Proses merger itu memberikan perusahaan kecil untuk mendapatkan pendanaan dan hasil riset dari perusahaan yang lebih besar. Sedangkan perusahaan besar mendapatkan produk yang sudah dikembangkan yang telah mencapai kualitas yang diinginkan.

Jadi, kedua belah pihak akan diuntungkan dengan adanya merger itu.

2. Masuk ke pasar yang baru

Bayangkan jika Anda ingin mengekspansi bisnis ke Vietnam.

Anda pasti akan bingung pada awalnya. Dari mana harus memulai? Apa saja yang mesti disiapkan? Bagaimana kondisi pasar di sana? Bagaimana regulasinya? dan lainnya.

Nah, merger dengan perusahaan lokal Vietnam yang telah lama berjalan di sana dapat mempercepat proses ini secara signifikan.

Perusahaan dari Vietnam tersebut tentunya sudah memiliki badan hukum tersendiri, telah mengantongi izin beroperasi, dan sudah memahami kondisi pasar dan bisnis di negara tersebut.

Anda juga bisa mendapatkan akses database klien, proses distribusi, dan brand value dengan proses merger ini. Juga hal bersifat teknis seperti pengembangan produk, riset produk, dll.

Sehingga Anda tidak harus memulai dari nol untuk masuk ke pasar yang baru.

3. Melawan kompetitor yang lebih kuat

Seperti contoh sebelumnya, perusahaan Anda akan lebih kuat bersaing melalui proses merger dengan perusahaan lain.

Dalam kasus Gojek dan Tokopedia, kompetitor yang perlu mereka waspadai adalah Shopee.

Shopee tercatat sebagai web e-commerce dengan pengunjung terbanyak sejak Q4 2019, menggeser Tokopedia yang sekarang berada di urutan kedua.

shopeefood vs gofood vs grabfood
Sumber: Tech in Asia

Apalagi Shopee mulai melebarkan bisnisnya dengan Shopeefood, yang tentunya akan menjadi pesaing serius bagi Gojek.

Dengan mengusung konsep dan slogan “Go Far, Go Together”, GoTo mengambil langkah strategis melalui kebersamaan, yaitu memimpin dalam hal layanan on-demand, e-commerce dan financial service. Paket komplit!

Berarti sudah pasti sukses dong jika perusahaan merger?

Hmm.. tidak juga. Merger tidak semudah Thanos menjentikkan jarinya. Bahkan untuk Thanos bisa menjentikkan jari dan menghilangkan 50% populasi di dunia juga harus berusaha mendapatkan enam buah infinity stones.

Setiap perusahaan pasti punya visi, misi dan budaya kerja. Begitu juga dengan perusahaan yang akan merger dengan Anda.

Ketika dua perusahaan dengan prinsip berbeda melakukan merger, nantinya bisa muncul potensi konflik dan masalah pada karyawan dan lingkungan kerja Anda.

Saya coba ambil kasus ketika Facebook mengakuisisi WhatsApp.

Facebook merupakan perusahaan media sosial yang selalu mengoptimalkan iklan dan monetisasi, sedangkan WhatsApp selalu berkomitmen untuk menjaga privasi penggunanya.

Sumber: The Wall Street Journal

Perbedaan budaya itu muncul dalam lingkungan kerja sehari-hari. Pada akhirnya, terjadi konflik dan kecemburuan antara karyawan WhatsApp dengan karyawan Facebook karena adanya perbedaan perlakuan dan cara kerja.

Hasilnya? 2 founder WhatsApp – Jan Koum dan Brian Acton – meninggalkan perusahaannya pada 2017.

Jadi, perhatikan soal budaya perusahaan Anda ketika ingin merger, karena dampaknya sangat besar. Tak hanya budaya perusahaan, Anda harus memahami secara dalam tantangan yang akan Anda hadapi seperti integrasi bisnis secara spesifik, proses produksi, perbedaan teknologi yang dipakai dan lainnya.

Anda tidak ingin perusahaan yang sudah Anda besarkan menjadi berubah dan tidak nyaman lagi bagi Anda? 

Apa kesimpulannya? Lebih baik merger atau tidak?

Merger adalah strategi yang bisa Anda gunakan untuk mengembangkan bisnis Anda.

Tapi merger juga punya plus minusnya, jadi Anda tidak bisa menjalankannya secara sembarangan.

Apakah strategi merger adalah langkah yang tepat untuk perusahaan Anda?

Tergantung tujuan dan kondisi perusahaan Anda, dan yang tahu apa yang terbaik untuk perusahaan Anda hanyalah Anda yang bisa menjawabnya.

Anda juga bisa ketik pertanyaan Anda di Google dan tambahkan Blog Sribu di akhir pertanyaan tersebut. Ini menunjukkan artikel terkait dari Blog Sribu, yang kualitasnya sudah tentu terjamin.

Apakah Anda sedang mencari informasi lainnya?

Jasa Fotografi Makanan & Minuman

Jasa Fotografi Katalog

Jasa Fotografi Mode Busana

Jasa Fotografi Produk

Jasa Penulisan Artikel Bhs. Inggris

Jasa Penulisan Artikel Bhs. Indonesia

Jasa Penulisan Deskripsi Produk Bhs. Indonesia

Jasa Penulisan Deskripsi Produk Bhs. Inggris