Kisah Asmara Indomaret dan Alfamart

Kalau ditanya, “Apa hobi kamu?” dengan cepat saya akan menjawab “Ngemil!”.

Untungnya di depan rumah saya ada beberapa Indomaret dan Alfamart, jadi bisa jajan kapanpun saya mau.

Tapi, Anda sadar tidak sih bahwa keberadaan Indomaret dan Alfamart itu selalu bersebelahan?

Keduanya seperti pasangan sejoli yang selalu menempel dan tak terpisahkan.

Pelopor minimarket modern ini seakan-akan membuat kesan bahwa mereka bisa mesra dalam bersaing.

Padahal, mereka sama-sama menjual kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, sampai kebutuhan rumah tangga.

Setelah saya kulik lebih dalam, ternyata persaingan dengan posisi berdekatan seperti ini adalah prinsip yang bernama Hotelling’s Law.

Prinsip ini diperkenalkan pertama kali oleh Harold Hotteling, yang menyatakan bahwa lokasi bisnis paling menguntungkan adalah ketika bersebelahan dengan kompetitor.

Hotelling’s law adalah teori untuk menguasai area market seluas-luasnya yang dipengaruhi oleh perilaku konsumen dan keputusan berlokasi berdekatan dengan kompetitor lainnya.

MIRIP 11 12 

Dulu sebelum Indomaret dan Alfamart mulai menjamur, masyarakat biasanya membeli bahan pokok di toko kelontong atau warung depan rumah. 

Ini seringkali membuat mereka tidak nyaman karena produk yang dijual tidak lengkap dan harga yang ditawarkan suka berubah-ubah.

Kondisi inilah yang menjadi alasan lahirnya Indomaret dan Alfamart.

Mereka sama-sama menawarkan pengalaman berbelanja yang bersih, rapi, nyaman, namun tetap terjangkau oleh masyarakat.

Uniknya, walaupun penuh persaingan, mereka selalu terlihat berdampingan di ruas-ruas jalan raya untuk merebutkan suatu wilayah.

Contoh lainnya, fenomena ini juga dialami beberapa restoran cepat saji McDonald’s dan Burger King di Jakarta yang selalu memiliki posisi berdekatan.

Jika McDonals’s dan Burger King tidak berada di dalam mall, maka posisi mereka akan bersebelahan seperti ini.

Lalu, bagaimana cara saya menentukan lokasi yang pas?

Oke, sebagai contoh:

Umumnya, banyak orang akan memilih posisi gerai yang berdekatan dengan area pelanggan. 

Tujuannya adalah untuk meminimalisir jarak yang harus ditempuh pelanggan.

Lalu, apa hubungannya dengan prinsip Hotelling’s Law?

Coba bayangkan, seandainya ada dua gerai. Satu milik Anda dan satu lagi milik pesaing.

Pasti Anda dan pesaing akan sulit menentukan posisi untuk mendirikan gerai, apalagi jika harga dan produk yang dijual sama.

Dalam kasus seperti ini, keberhasilan gerai akan ditentukan oleh jarak terdekat dari pelanggan.

Contohnya, posisi gerai A berada di sisi Timur dan gerai B berada di sisi Barat. (situasi 1)

Gerai-gerai akan mendapatkan pangsa pasarnya masing-masing dan pelanggan pun diuntungkan dengan jarak gerai yang lebih dekat.

Nah, ini bagian menarik dari Hotelling’s Law.

Prinsip Hotelling’s Law memprediksi bahwa nantinya, tiap-tiap gerai akan berupaya untuk memperluas pangsa pasar dengan mengambil target market dari pesaing. 

Logikanya, jika salah satu gerai yang bergeser mendekati pesaing, maka gerai lain akan merasa terancam karena takut diambil pasarnya. (situasi 2)

Maka akhirnya, kedua gerai akan memilih posisi yang saling berdekatan bahkan berdempetan agar bisa berbagi pasar yang sama. (situasi 3) 

Itulah alasannya, mengapa Indomaret dan Alfamart hampir selalu berdekatan.

SIMPEL, GA PAKE RIBET

Salah satu prinsip lain dari Hotelling’s Law adalah menggunakan hasil riset perusahaan lain sebagai rujukan menentukan lokasi bisnis.

Sebagai contoh, berdasarkan data di bawah ini, Anda mengetahui bahwa Bank BRI memiliki jumlah gerai ATM terbanyak di Indonesia.

Dari hasil ini, ternyata Anda bisa memanfaatkannya untuk meramaikan gerai Anda.

Misalnya, cukup membuka gerai bersebelahan dengan ATM BRI atau menyediakan ATM BRI sebagai bagian dari gerai.

Nasabah yang datang bisa melakukan transaksi di ATM, sembari mampir untuk berbelanja di gerai Anda. Dengan begitu, Anda tak perlu repot untuk riset pasar sendiri. Gunakan saja hasil riset perusahaan lain yang sudah terbukti.

Selain ATM, Anda juga bisa menggunakan gerai yang pasti populer dan ramai seperti Starbucks atau restoran fastfood lain karena terbukti menjadi rujukan untuk menentukan lokasi bisnis yang strategis. 

REBUTAN PANGSA PASAR

Ingat tidak ketika Indomaret menciptakan Point Coffee untuk mengikuti tren kopi kekinian?

Alfamart merespon dengan menawarkan kopi Bean Spot untuk merebut pangsa pasar Indomaret.

Namun ketika Alfamart meluncurkan layanan shopping online, Alfacart. Ternyata, Indomaret tak mau kalah dengan meluncurkan layanan serupa yaitu KlikIndomaret.

Mereka terus berlomba-lomba untuk menarik dan membesarkan pangsa pasar.

Namun, uniknya mereka tak pernah memberi diskon produk secara bersamaan.

Tujuannya untuk riset kesetiaan pelanggan apakah pelanggan akan kembali lagi kepada kita atau pindah ke kompetitor lain dan juga menghindari terjebak pada perang harga yang akan merugikan masing-masing pihak.

Jika prinsip ini diterapkan hingga terjadi perang harga, maka persaingan ini bisa mencapai keuntungan nol dan ini berbahaya bagi kedua belah bisnis.

Keuntungan Nol? Apa itu maksudnya?

Andaikan, gerai A memberi diskon 20%.

Secara naluriah, pelanggan akan menghampiri gerai A karena ada tawaran diskon tersebut.

Di waktu bersamaan, gerai B merasa terancam dan memberikan diskon 50% agar pelanggannya kembali.

Jika hal ini terus berlanjut, maka keuntungan yang didapat akan semakin tipis dan mengecil.

Kedua bisnis bisa jadi merugi dan ini seharusnya bisa dihindari. 


Menentukan lokasi strategis untuk bisnis adalah hal yang sangat penting.

Seperti pepatah bilang, “Keberhasilan bisnis ditentukan oleh tiga faktor, yaitu: lokasi, lokasi dan lokasi”.

Kegagalan dalam berbisnis di antaranya adalah ketika Anda salah memilih lokasi gerai.

Pemilihan lokasi menjadi keputusan penting yang bisa berdampak pada bisnis Anda.

Nah, Hotelling’s Law bisa menjadi salah satu pedoman untuk Anda tentukaan lokasi bangun gerai yang strategis.

Jadi kalau begini… apakah Anda mau tetap mendirikan gerai sendiri di antah berantah atau langsung bersebelahan dengan kompetitor?

Exit mobile version