Social Media Marketing: Ingin Akun Bisnis Viral? Kurangi Menjual!

ilustrasi social media marketing bisnis

Untuk mendapatkan strategi social media marketing yang efektif, coba jawab satu pertanyaan ini secara logis dan jujur:

Ketika melihat sebuah konten iklan random di media sosial, berapa detik waktu yang Anda butuhkan sebelum lanjut scroll ke konten selanjutnya?

Saya pribadi sepertinya tidak pernah menghabiskan lebih dari 5 detik (mungkin sedikit lebih lama jika memang sedang memerlukan atau tertarik dengan produk/brand yang ditawarkan).

Dan saya adalah seorang digital marketer.

Saya adalah orang yang membuat konten-konten seperti itu.

Artinya, untuk kalangan masyarakat konsumen awam waktu tersebut kemungkinan berlalu lebih cepat (3 detik saja sepertinya sudah terdengar sangat optimis).

Ini karena.. tidak ada satupun orang yang membuka media sosial untuk sengaja melihat iklan.

Sebagai pengguna biasa, otak kita seperti sudah terprogram untuk otomatis scroll melewati iklan-iklan yang muncul tersebut.

Lalu, bagaimana bisa beberapa bisnis sukses membangun image dan branding yang menarik konsumen melalui akun-akun media sosialnya?

Mari pelajari salah satu contoh terbaik dalam hal ini dari brand permen, Skittles.

PERMEN WARNA WARNI YANG DIKAGUMI

Saat ini, Skittles mempunyai sekitar 628.000 pengikut di Twitter, 373.000 di Instagram, dan 20,5 juta di Facebook.

Angka-angka di atas saya rasa bisa membuat banyak pemilik bisnis merasa iri.

Strategi social media marketing seperti apa yang harus dilakukan supaya bisa meraih pencapaian serupa?

Jika melihat dari metode-metode yang dilakukan Skittles, ada 3 hal yang bisa kita jadikan catatan penting:

1. MEMULAI PERBINCANGAN & MEMANCING INTERAKSI

Seperti yang sudah kita bahas di awal artikel, tidak ada pengguna media sosial yang menyukai iklan.

Bahkan, mungkin, kebanyakan mereka merasa benci ketika melihat konten dengan tulisan seperti “Beli Sekarang! Hanya Rp xxx!”.

Jadi, kenapa tidak coba buat audiens merasa nyaman dengan mengajak mereka untuk berdiskusi/berinteraksi?

Skittles melakukan hal ini secara rutin.

Alhasil, banyak audiens & pengikut yang berinteraksi di konten (post) mereka, baik dengan satu sama lain ataupun dengan admin akun.

Hal ini membuat ada asosiasi perasaan yang menyenangkan — terutama ketika interaksi bersifat positif — yang melekat di hati ketika audiens mengingat brand Skittles.

Mereka akan merasa lebih “sulit” untuk otomatis scroll melewati konten ketika akun Skittles membuat sebuah post, karena mereka memang dibuat tertarik untuk melihatnya.

Metode ini membuat audiens dan pengikut Anda merasa dihargai.

Karena..

Di sini mereka merasa lebih dari hanya sekedar “target” bombardir penjualan saja, dan memiliki suara yang memang ingin Anda dengar.

Mereka akan berpikiran bahwa Anda menganggap/melihat mereka sebagai manusia, bukan hanya “dompet yang berjalan”.

2. TUJUAN KONTEN: MENGHIBUR

Ini adalah tujuan utama setiap pengguna media sosial ketika membuka aplikasi favoritnya: mencari hiburan.

Kata kunci yang harus kita catat dari kalimat di atas adalah “mencari”.

Artinya, di media sosial konten-konten yang menghibur sifatnya dibutuhkan.

Skittles sekali lagi menyadarinya dan menjadikan hal ini sebagai strategi:

Mereka bahkan tidak ragu untuk keluar jauh dari topik yang terkait dengan brand.

Twit di atas hanya mengucapkan salam untuk teman-temannya, yang tidak termasuk seseorang bernama Gary.

Tidak ada kaitannya dengan produk/brand Skittles sama sekali.

Hasilnya?

Akun bisnis ini jadi terlihat seperti akun pribadi.

Jika Anda beranggapan bahwa hal di atas adalah sesuatu yang buruk, coba pikirkan lagi..

Sebagai pengguna media sosial, Anda lebih banyak mengikuti akun pribadi atau bisnis?

Jawabannya pasti akun pribadi.

Walaupun ini hanya “ilusi” persepsi saja, image bisnis Anda di benak audiens pun secara tidak disadari sudah berubah ke arah yang lebih baik.

Akun bisnis yang terlihat seperti akun pribadi karena menghibur = lebih menarik untuk di-follow.

Selain Skittles, beberapa brand lain seperti Wendy’s & Cinnabon pun sudah membuktikan bahwa metode ini efektif untuk mendapatkan perhatian di media sosial.

Coba buat konten-konten yang bersifat menghibur, dan Anda akan bisa buktikan bahwa metode ini memang manjur!

3. BUAT BEBERAPA KONTEN “BERSAMBUNG” YANG TERKONSEP

Lihat contoh konten seri horoskop buatan Skittles berikut ini:

skittles social media marketing horoscope series
Konten horoskop Skittles dari Facebook

Jika dibuat satu persatu, mungkin audiens tidak akan langsung mengetahui bahwa konten di atas dibuat oleh Skittles.

Hanya sebuah “lingkaran” berwarna dengan huruf S yang memberikan info horoskop.

Barulah ketika dibuat sebagai sebuah seri, konten ini menunjukkan karakter Skittles dengan lingkaran (yang kini bisa dilihat, adalah sebuah permen) yang mewakili tiap rasa berbeda dari produknya.

Konsistensi gaya di seri konten ini bisa menunjukkan karakter unik brand mereka!

Jenis konten seperti ini pun senang dilihat oleh pengguna media sosial karena sifat “simetris” yang ada sangat memanjakan mata.


Untuk menghindari kesalahpahaman:

Pernyataan di judul artikel ini adalah “kurangi menjual”, bukan “berhenti menjual”.

Pada akhirnya, tujuan dari social media marketing adalah untuk mendatangkan konsumen:

Perhatikan bagaimana Skittles menjual salah satu produknya pada contoh di atas.

Sekilas, pengikut mungkin tidak langsung sadar bahwa ini adalah siasat penjualan, hanya sebuah cuitan yang memperkenalkan varian rasa baru.

Tapi kita, sebagai pebisnis & digital marketer, tahu bahwa ini adalah sebuah teknik marketing juga!

Hal ini pun dibantu karena mereka jarang membuat post seperti ini (dari yang saya lihat, mereka hanya membuat satu post seperti ini dalam 3 bulan terakhir).

Akhirnya, pengikut pun akan berpikir bahwa ini hanya cuitan biasa, bukan usaha untuk menjual produk.

Inilah goal yang ingin kita capai dengan taktik marketing media sosial:

Untuk menciptakan ikatan dengan audiens secara tidak disadari, sehingga di masa datang mereka akan lebih tertarik untuk membeli.

WhatsApp Consultation Button