Sunk Cost Fallacy: Jadi Untung Ketika Terlanjur Buntung

sunk cost fallacy illustration

Saya menghabiskan waktu libur akhir pekan beberapa waktu lalu dengan pergi menonton film di bioskop.

Karena tidak membuat rencana terlebih dahulu, saat itu sebenarnya saya tidak tahu film apa saja yang sedang tayang.

Setelah melihat pilihan yang ada, akhirnya saya memilih untuk menonton Kuntilanak 3.

30 menit pun berlalu sejak film dimulai dan saya menyadari sesuatu..

Ini bukan film yang bagus.

Mulai dari dialog yang cheesy, penyampaian kaku, hingga plot yang sangat generik, ini bukan film yang bagus.

Karena sudah merasa kecewa duluan, saya sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan studio dan pulang.

Tapi..

Saya sudah mengeluarkan Rp. 40.000 untuk membeli tiket.

Jika saya pulang, artinya uang tersebut sudah saya habiskan secara sia-sia.

Akhirnya saya “menguatkan diri” dan memutuskan untuk menonton sampai selesai.

Apakah pendapat saya akhirnya berubah? Tidak.

YANG LALU BIARKAN BERLALU

Yang terjadi di pengalaman saya di atas, adalah sebuah konsep yang dikenal dengan sebutan sunk cost fallacy.

Singkatnya, sunk cost fallacy adalah pengaruh buruk “biaya” hangus (sunk cost) terhadap keputusan yang kita ambil.

Di sini saya menulis “biaya” dalam tanda kutip karena bentuknya tidak selalu berupa uang.

“Biaya” hangus di sini juga bisa dalam bentuk waktu, pikiran, ataupun tenaga.

Isu ini sangat sering dirasakan oleh pebisnis, terutama terkait dengan uang.

Mari sejenak kembali ke contoh di atas.

Dengan memutuskan menonton sampai selesai, apa saya akan bisa mendapatkan uang Rp. 40.000 saya kembali?

Tidak.

Yang terjadi justru saya kehilangan 90 menit tambahan yang sebenarnya bisa saya habiskan untuk melakukan hal lain.

Saya pun mungkin bisa lebih menikmati 90 menit tersebut.

Terlepas dari keputusan apapun yang saya ambil, uang Rp. 40.000 yang saya gunakan untuk membeli tiket tidak mungkin bisa kembali.

Jika menyadari hal ini, tentu saya seharusnya memilih untuk pulang.

Dengan demikian saya hanya akan menghabiskan waktu 30 menit menonton film yang tidak saya sukai, bukan 120 menit.

Tapi sayangnya, sunk cost memang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pengambilan keputusan seseorang.

Ini karena secara psikologis, manusia tidak ingin mengeluarkan “biaya” untuk sesuatu yang percuma.

Foto oleh Eugene Shelestov di Pexels

TAHU KAPAN HARUS BERHENTI

Dalam berbisnis, sunk cost fallacy tentu bisa menyebabkan kerugian.

Skenario yang sering ditemui adalah ketika seorang pebisnis memutuskan untuk lanjut melakukan sesuatu–walaupun hasil yang didapat tidak memuaskan–hanya karena merasa sudah “tanggung”.

Sunk cost telah mempengaruhi keputusan tersebut secara buruk.

Mari bayangkan skenario lain:

Anda sudah menghabiskan Rp. 10 juta dan 2 bulan untuk membuat iklan video produk terbaru Anda.

Setelah beberapa bulan, iklan tak kunjung mendatangkan konsumen seperti yang diharapkan.

Walaupun demikian, Anda memutuskan untuk terus melanjutkan penayangan iklan.

Meski tiap bulannya Anda harus membayar Rp. 2 juta, Anda tidak ingin berhenti karena belum balik modal.

Apa menurut Anda keputusan di atas adalah langkah yang tepat?

Dengan ingin balik modal, artinya sunk cost (dalam bentuk uang) sudah menjadi pengaruh besar dalam keputusan.

Padahal ada sunk cost lain berupa waktu 2 bulan–dan tentunya tenaga & pikiran–yang sudah Anda “bayar” untuk membuat iklan.

Anda harus sadar bahwa biaya-biaya tersebut sudah tidak mungkin lagi kembali.

Anda sudah menghabiskannya.

Mungkinkah Anda bisa mendapatkan Rp. 10 juta jika tetap menunggu? Ya, tentu saja.

Tapi, mengambil keputusan bisnis didasarkan dengan “kemungkinan” bukanlah sesuatu yang bijak.

Dengan tidak menghiraukan sunk cost, kini pertanyaan yang tersisa adalah:

“Apakah terus mengeluarkan Rp. 2 juta setiap bulan untuk iklan yang sejauh ini performanya tidak memuaskan adalah keputusan terbaik?”

Dengan menjawab pertanyaan di atas, Anda akan bisa mengambil keputusan terbaik dan bisa meminimalisir kerugian.

Siapa tahu? Bisa jadi keputusan yang Anda ambil justru akan mendatangkan efek positif yang tidak terduga.


Ada alasan kenapa sunk cost biasa kita sebut sebagai “biaya hangus”.

Hangus = sudah terbakar = tidak bisa kembali ke kondisi semula.

Apa bijak jika mengambil keputusan berdasarkan dari sesuatu yang sudah menjadi “abu”?

Tentu tidak.

Lupakan yang sudah berlalu, dan fokuskan pikiran Anda ke masa depan.

Inilah yang harus dilakukan jika Anda ingin bisnis terus berkembang dan maju (tentu sulit untuk maju jika Anda terus melihat ke belakang, toh?).

Sebagai penutup, mari resapi kata mutiara dari penulis dan teolog ternama, C.S Lewis berikut ini:

 

 

Exit mobile version